<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Urologi</title>
	<atom:link href="http://urologynotes.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://urologynotes.wordpress.com</link>
	<description>Bahan kuliah, berita, referensi, catatan.....</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Aug 2011 13:39:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='urologynotes.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/bd791a35a6642f629857424a43ab9420?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Catatan Urologi</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://urologynotes.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan Urologi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://urologynotes.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Penatalaksanaan Sindrom Klinefelter</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com/2010/05/26/penatalaksanaan-sindrom-klinefelter/</link>
		<comments>http://urologynotes.wordpress.com/2010/05/26/penatalaksanaan-sindrom-klinefelter/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 06:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjier</dc:creator>
				<category><![CDATA[andrologi]]></category>
		<category><![CDATA[barr body]]></category>
		<category><![CDATA[klinefelter's syndrome]]></category>
		<category><![CDATA[seksual]]></category>
		<category><![CDATA[sindrom klinefelter]]></category>
		<category><![CDATA[terapi androgen]]></category>
		<category><![CDATA[terapi hormon]]></category>
		<category><![CDATA[terapi wicara]]></category>
		<category><![CDATA[unair]]></category>
		<category><![CDATA[urologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urologynotes.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Latar Belakang Sindrom Klinefelter sebenarnya memiliki prevalensi yang tinggi dan mencangkup banyak gejala dalam bidang urologi, namun kurang mendapat perhatian dari para ahli urologi. Namun dalam10 tahun terakhir, dengan perkembangan teknik reproduksi artifisial dan keberhasilan kelahiran anak yang sehat dari seorang ayah yang menderita sindrom Klinefelter, keterlibatan ahli urologi dalam penatalaksanaan pasien makin meningkat. Dahulu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=143&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_144" class="wp-caption alignleft" style="width: 170px"><strong><strong><a href="http://urologynotes.files.wordpress.com/2010/05/urologi.jpg"><img class="size-medium wp-image-144 " title="Jabir" src="http://urologynotes.files.wordpress.com/2010/05/jabir.jpg?w=160&#038;h=180" alt="" width="160" height="180" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Neh yg bikin refarat <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p>Sindrom Klinefelter sebenarnya memiliki prevalensi yang tinggi dan mencangkup banyak gejala dalam bidang urologi, namun kurang mendapat perhatian dari para ahli urologi. Namun dalam10 tahun terakhir, dengan perkembangan teknik reproduksi artifisial dan keberhasilan kelahiran anak yang sehat dari seorang ayah yang menderita sindrom Klinefelter, keterlibatan ahli urologi dalam penatalaksanaan pasien makin meningkat. Dahulu sindrom Klinefelter hampir semuanya ditangani oleh ahli endokrinologi. Para urolog berperan penting dalam penatalaksanaan jangka panang pasien sindrom Klinefelter dalam hal fungsi reproduksi dan fungsi seksual pasien. Oleh karena itu penting untuk mempersiapkan para klinisi urologi dalam perkembangan ilmu tentang kelainan ini dengan memperbaharui pengetahuan tentang patofisiologi dan penatalaksanaan sindrom Klinefelter.<sup>1<span id="more-143"></span></sup></p>
<p>Sindrom Klinefelter pertama kali dideskripsikan pada tahun 1942 ketika Klinefelter dkk meneliti 9 pria dengan ginekomastia, testis yang kecil, azoospermia, dan peningkatan kadar gonadotropin. Mereka meyakini bahwa hipogonadisme berasal dari kegagalan sel sertoli dari testis sebagai tempat spermatogenesis. Distribusi rambut pubis dan axillar yang sesuai merupakan indikasi relatif normalnya fungsi sel Leydig yang menghasilkan testosteron. Mereka juga mengatakan bahwa pasien-pasien ini memiliki kadar hormon testikular yang rendah atau kadang tidak ada yang diatur oleh kadar gonadotropin pituitari melalui umpan balik inhibisi. Mereka menamakan hormone ini dengan hormone X atau inhibin.<sup>2,8</sup></p>
<p>Pada tahun 1949, Barr dan Bertram menemukan massa kromatin yang padat yang kemudian dinamakan seks kromatin atau <em>Barr body</em> di dalam nukleus sel saraf kucing betina namun tidak ditemukan ada pada kuncing jantan. Penemuan bahwa <em>Barr body</em> ada pada nucleus sel somatik wanita namun tidak pada pria inilah yang kemudian membedakan  antara kromosom pria dan wanita. Tahun 1956, dua kelompok peneliti menjelaskan 7 pasien dengan Sindrom Klinefelter menggunakan hasil pemeriksaan bukal yang menunjukkan adanya <em>Barr body</em>. Tahun 1959 ada penemuan bahwa pasien dengan Sindrom Klinefelter memiliki 47 kromosom, yaitu kromosom X tambahan (kariotip  47,XXY), yang menunjukkan bahwa <em>Barr body</em> yang ditemukan dalam sindrom Klinefelter merupakan kromosom X tambahan. Penelitian selanjutnya menemukann kelainan kromosom  X  pada sindrom Klinefelter yakni 48,XXXY dan variasi lainnya.<sup>2,8,9</sup></p>
<p><strong>Epidemiologi</strong></p>
<p>Sindrom Klinefelter merupakan kelainan kromosom seks yang paling sering. Kelainan ini mengenai laki-laki yang  membawa kromososm X tambahan yang meyebabkan terjadinya hipogonadisme pada pria, defisiensi androgen, dan kerusakan spermatogenesis. Beberapa pasien mungkin menunjukkan gejala klasik yakni ginekomastia, testis kecil, rambut tubuh yang jarang, postur tinggi dan infertil atau manifestasi klinis lainnya.<sup>2,3</sup></p>
<p>Kelainan ini ditemukan satu dalam 500-1.000 bayi laki-laki lahir dengan kromosom X tambahan yakni, 47,XXY. Kariotip inilah yang menyebabkan sindrom Klinefelter. Kariotip ini dideteksi pada atau sebelum kelahiran dalam 10 persen anak laki-laki yang menderita sindrom Klinefelter, dan ditemukan pada 25% orang dewasa yang mengelami kelainan ini. Dulu dikatakan bahwa hampir semua pria dengan kariotip 47,XXY akan infertile. Sindrom Klinefelter terhitung 3% menjadi penyebab infertiltas pada pria dengan oligospermia atau azoospremia (5-10 persen).Kelainan kromososom seks yang paling sering ini perlu penanganan khusus dan komprehensif sehingga bisa menurukan angka morbiditas dan mortalitas serta meningkatkan kualitas hidup penderita sindrom Klinefelter.<sup>4,5,6,7</sup></p>
<p>Prevalensi sindrom Klinefelter  2-20 kali pada individu yang menderita retardasi mental dibandingkan populasi bayi baru lahir pada umumnya.  Lebih kurang 40% konsepsi dengan Sindrom Klinefelter mati pada periode fetalis. Sekitar 250.000 pria di AS menderita Sindrom Klinefelter. Secara umum, berat ringannnya malformasi pada Sindrom Klinefelter tergantung jumlah kromosom X. Retardasi mental dan hipogonadisme lebih berat pada pasien dengan kariotip 49,XXXXY dibandingkan dengan 48,XXXY. Angka kematian tidak berbeda secara signifikan dengan individu yang sehat.<sup>2,8,9</sup></p>
<p>Sindrom Klinefelter tidak memiliki predileksi ras. Hanya didapatkan pada pria karena disebabkan oleh penambahan kromosom X pada kromosom XY. Paling banyak tidak bisa terdiagnosis sampai dewasa. Indikasi yang paling sering untuk pemeriksaan genetik adalah ditemukannya hipogonadisme dan infertilitas.<sup>8,9</sup></p>
<p><strong>Etiologi dan Patofisiologi</strong></p>
<p>Adanya kromosom X tambahan ini dipertimbangkan sebagai faktor etiologi dasar Sindrom Klinefelter. Kromosom X tambahan ini merupakan komponen utama dari kelainan yang pertama kali ditemukan oleh Klinefelter dkk, namun berlawanan dengan hipotesis yang mereka usulkan yakni sindrom Klinefelter disebabkan oleh adanya hipofungsi sel Leydig, walaupn kadar testosteron mungkin masih dalam batas normal dan pasien menunjukkan berbagai tingkat virilisasi. Namun hipotesis mereka benar tentang adanya hormon testikular sekunder.<sup>1,2,8,9</sup></p>
<p>Penelitian yang terbaru menemukan kadar zat yang dinamakan inhibin B, yakni bentuk aktif dari inhibin yang berasal dari sel Sertoli berhubungan erat dengan fungsi sel Sertoli dan ditemukan dalam kadar yang sangat rendah pada pasien dengan sindrom Klinefelter.<sup>1,2,8,9</sup></p>
<p>Kromosom X membawa gen yang berperan penting pada berbagai sistem tubuh, yakni fungsi testis, perkembangan otak, dan pertumbuhan. Penambahan lebih dari satu kromosom X atau Y pada kariotip laki-laki akan menyebabkan berbagai kelainan fisik dan kognitif. Secara umum akan menyebabkan adanya abnormalitas fenotip, misalnya retardasi mental, yang secara langsung berhubungan dengan kelebihan jumlah kromosom X. Makin banyak jumlah kromosom X, makin banyak pula kelainan perkembangan somatik dan kognitif yang dipengaruhi.<sup>1,2,8.9</sup></p>
<p>Sindrom Klinefelter merupakan bentuk kegagalan testikular primer. Peningkatan kadar gonadotropin disebabkan oleh hilangnya inhibisi umpan balik ke kelenjar pituitari. Walaupun fungsi endokrin testikular mungkin rendah sebagaimana masa kehidupan fetalis dengan kadar testosterone dari aliran darah plasenta janin yang memiliki kromosom XXY lebih rendah dari janin normal, fungsi gonad-pituitary pada pasien sindrom Klinefelter ditemukan normal setelah lahir sampai puber. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa sperma ditemukan pada lebih dari 50% pria dengan sindrom Klinefelter.<sup>1,9</sup></p>
<p>Patogenesis terjadinya ginekomastia pada pasien Sindrom Klinefelter masih tidak jelas. Diduga akibat peningkatan kadar esradiol dalam serum yang berasal dari peningkatan konversi testosteron menjadi estradiol dan penurunan <em>clearance</em> estradiol.<sup>2,3</sup></p>
<p><strong>Tujuan Penulisan </strong></p>
<p>Tujuan penulisan referat ini adalah untuk menguraikan penatalaksanaan pasien yang menderita sindrom Klinefelter dengan menekankan pada intervensi yang bisa dilakukan oleh seorang ahli urologi yakni pada terapi defisiensi androgen dan penanganan infertilitas. Diharapkan pasien yang menderita sindrom Klinefelter dapat ditangani  lebih awal dan lebih baik. Diagnosis dan penanganan yang lebih awal dapat meningkatkan kualitas hidup dan status kesehatan pria yang menderita sindrom Klinefelter.</p>
<p>Diagnosis dan penatalaksaan pasien sindrom Klinefelter termasuk dalam lingkup dan pelatihan untuk ahli urologi. Perkembangan penelitian yang membandingkan beberapa model penatalaksanaan kelainan in pada pria dewasa dan anak-anak akan memungkinkan kita untuk membuat standar penatalaksaan pada pasien-pasien ini.</p>
<p><strong>PENATALAKSANAAN</strong></p>
<p>Penatalaksanaan pria yang menderita Sindrom Klinefelter cukup menantang. Salah satu tujuan penatalaksanaan ini adalah agar penderita sindrom Klinefelter bisa melakukan fungsi reproduksi.  Kebanyakan pria datang ke dokter dengan keluhan infertilitas dan mencari pengobatan intervensi terutama ekstraksi sperma testicular (TESE) mikrobedah dengan fertilisasi in vitro (IVF). Pilihan  terapi pada usia remaja berbeda dengan orang dewasa, terutama pada remaja yang lebih muda. Usaha untuk mempertahankan kesuburan harus didiskusikan dengan orang tua.<sup>1.9</sup></p>
<p>Pada pasien yang tidak tertarik pada terapi infertilitas, difokuskan pada terapi sulih testosteron, mempertahankan kesehatan secara umum, kesehatan tulang yang adekuat, dan menurunkan resiko thrombosis vena dalam.<sup>1,9</sup></p>
<p>Identifikasi yang lebih awal dan petunjuk penatalaksanaan sangat membantu karena sindrom Klinefelter jarang terdiagnosis sebelum masa puber. Penanganan kelainan ini ditujukan pada 3 hal, yakni : hipogonadisme, ginekomastia, dan masalah psikososial.<strong> </strong></p>
<p><strong>I. </strong><strong>Terapi Androgen</strong></p>
<p>Terapi androgen adalah hal yang terpenting dalam sindrom Klinefelter. Pemberian testosteron (testosterone replacement) harus dimulai pada saat pubertas, yakni sekitar umur 12 tahun. Dosisnya ditingkatkan sampai cukup  untuk mempertahankan konsentrasi testosteron, estradiol, <em>follicle-stimulating hormone </em>(FSH), dan <em>Luteinizing Hormon</em> (LH) dalam serum sesuai umur.<sup>1,9,10,11</sup></p>
<p>Terapi androgen digunakan untuk mengoreksi defisiensi androgen, memungkinkan virilisasi yang sesuai, dan untuk memperbaiki status psikososial. Injeksi testosteron secara teratur dapat memacu kekuatan otot dan pertumbuhan rambut wajah, membuat lebih banyak jenis otot tubuh, meningkatkan nafsu seksual, memperbesar testis, memperbaiki mood, citra diri dan perilaku dan memberikan perlindungan terhadap osteoporosis dini.<sup>9,10,12,13</sup></p>
<p>Androgen eksogen (testoteron) merupakan terapi pilihan untuk sindrom Klinefelter. Biasanya dalam bentuk testosterone enantat (Delatestryl) atau cypionate (depo-testosteron). Dosis dewasa : 200 mg IM 4 kali dalam 2-3 minggu. Dosis anak : dimulai pada usia 11-12 tahun, 50 mg 4 kali/bulan. Dosis ditingkatkan pertahun menurut keadaan pasien, tingkat virilisasi, pertumbuhan, kadar gonadotropin serum, sampai mencapai dosis orang dewasa.<sup>4,10,14,15</sup></p>
<p>Respon individual terapi testosterone bisa berbeda-beda. Namun sebagian besar terapi ini memberikan efek yang menguntungkan, hanya sedikit yang tidak. Efek samping injeksi testosterone sedikit. Beberapa orang mengalami gejala alergi pada tempat injeksi yang kadang gatal dan bengkak seperti digigit nyamuk. Krim hidrokortison dapat mengatasi masalah ini.<sup>16,17</sup></p>
<p>Injeksi testoteron dapat menyebabkan pembesaran prostat jinak (BPH). Pada pria normal BPH biasanya muncul pada usia 60-an sedangkan pada pria XXY yang mendapatkan suntikan testosterone, BPH bisa muncul dalam usia di atas 40 tahun sehingga perlu dilakukan pemeriksaan prostat secara regular. Bila membesar dapat dilakukan tindakan pembedahan.<sup>16,17</sup><strong> </strong></p>
<p><strong>II. </strong><strong>Terapi Infertilitas</strong></p>
<p>Karena sterilitas merupakan perhatian utama orang tua dan pasien remaja, beberapa pusat penelitian mengembangkan program untuk pemeliharaan fertilitas pada anak laki-laki dengan kelainan kromosom dengan menggunanakan prinsip yang hampir sama dengan yang digunakan untuk anak-anak dan remaja yang akan menjalani kemoterapi atau terapi radiasi.</p>
<p>Beberapa pusat onkologi dilakukan kriopreservasi sperma pada penderita sindrom Klinefelter remaja postpuber dan orang dewasa. Tindakan inidisamakan dengan pasien yang akan menjalani kemoterapi dan menjadi standar perawatan pada orang dewasa dan dewasa muda yang menjalani kemoterapi yang bisa mengakibatkan kemandulan. Ada penelitian yang menemukan bahwa sindrom Klinefelter merupakan penyebab 97% kemandulan pada pria. Oleh karena itu setiap usaha seharusnya dilakukan untuk memelihara kesuburan pada anak-anak yang didiagnosa dengan sindrom Klinefelter. Kehilangan sel spermatogonia pada pria sindrom Klinefelter terjadi secara progresif. Hampir semua anak laki-laki dengan sindrom Klinefelter lahir dengan spermatogonia mengalami apoptosis yang massif menjelang masa pubertas. Pada masa pubertas awal, nampaknya ada  saat  dimana spermatogenesis mulai terjadi dan sperma ditemukan dalam ejakulat. Penyimpanan sperma ejakulat ini tidak hanya menawarkan keuntungan pada pasien demi kelanjutan fungsi biologis reproduksinya namun juga memiliki efek yang positif dalam perkembangan psikologis pada seorang dewasa yang beberapa tahun sebelumnya identik dengan kemandulan. Prospek penyimpanan sperma memunculkan adanya diskusi tentang pemeliharaan kesuburan pada seorang dewasa muda yang akan mandul seiring dengan perjalanan waktu.<sup>2,9,17,18,19</sup></p>
<p>Beberapa teknik baru seperti <em>xenografting</em> testis dan transplantasi stem sel spermatogonia sedang diteliti. Ada juga program yang bertujuan untuk maturasi spermatogonia dari anak laki-laki yang menderita sindrom Klinefelter. Waktu yang optimal untuk biopsi testis adalah ketika spermatogenesis sedang berlangsung menuju tahap penyelesaian dan sperma yang bergerak dapat diambil. Biasanya dilakukan pada pria yang tidak bisa ejakulasi atau tidak ada sperma dalam ejakulatnya. Saat ini ada yang menggunakan USG skrotum dan spektroskopi MRI untuk pasien dewasa untuk menentukan waktu yang optimal untuk biopsi testis.<sup>2,9,17,18,19</sup></p>
<p>Pria yang menderita sindrom Klinefelter diperkirakan infertil sampai tahun 1996. Setelah 10 dekade terakhir, perkembangan dalam  teknik bedah mikro  dan perkembangan teknologi reproduktif artifisial memungkinkan lebih dari 50% pasien yang menderita sindrom Klinefelter memiliki anak melalui teknik kombinasi  bedah mikro eksraksi sperma testicular (TESE) dan penggunaan sperma yang diperoleh secara segar untuk fertilisasi in vitro (IVF). Kenyataan bahwa sperma dapat ditemukan dalam testis pria sindrom Klinefelter telah menolak asumsi sebelumnya yang mengatakan bahwa pria dengan sindrom Klinefelter selalu steril. Saat ini spermatozoa yang <em>viable</em> dapat diekstraksi dari testis mealui biopsi bedah, dan spermatozoa dapat disuntikkan secara langsung ke dalam suatu ovum.<sup>2,9,18,19</sup></p>
<p><em> Microsurgery Testicular Sperm Extraction (Micro TESE)</em></p>
<p>(gambar dari <a href="http://www.health-res.com/for-non-obstructive-azoospermia/">http://www.health-res.com/for-non-obstructive-azoospermia/</a>)</p>
<p><em>In Vitro Fertilization</em> (IVF)</p>
<p>Gambar dari http://www.panama-guide.com/article.php/</p>
<p>Lebih dari 60 anak telah lahir setelah keberhasilan injeksi sperma intra sitoplasmik (ICSI) pada pasangan dimana prianya menderita sindrom Klinefelter. Hanya sedikit pria dengan sindrom Klinefelter yang memiliki sperma hidup dalam ejakulat mereka dan mampu menghasilkan sperma untuk kriopreservasi pada kehamilan selanjutnya.<sup>2,19,20,21</sup></p>
<p><sup> </sup></p>
<p><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p>Proses <em>intracytoplasmic sperm injection</em> (ICSI)</p>
<p>(gambar dari http://www.panama-guide.com/article.php/)<strong> </strong></p>
<p><strong>III. </strong><strong>Terapi Bicara dan Tingkah Laku</strong></p>
<p>Pendekatan tim secara multidisiplin dapat membantu perbaikan kelainan berbicara, kesulitan akademik, dan masalah psikososial serta masala  tingkah laku lainnya.</p>
<p>Pada anak-anak, terapi bicara dan bahasa secara dini sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan memahami dan menghasilkan kemampuan bahasa yang lebih baik.</p>
<p>Pria yang menderita Sindrom Klinefelter harus dilakukan evaluasi psikoedukasi yang komprehensif untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan mereka. Informasi yang diperoleh dari evaluasi ini bisa membantu dalam merencanakan jenis dan penempatan kelas di sekolah.<sup>2,19,20</sup><strong> </strong></p>
<p><strong>IV. </strong><strong>Terapi Okupasi dan Fisik</strong></p>
<p>Terapi fisik harus direkomendasikan pada anak laki-laki yang mengalami hipotonia atau keterlambatan kemampuan motorik yang mempengaruhi tonus otot, keseimbangan, dan kordinasi. Terapi okupasional dianjurkan pada anak laki-laki yang mengalami dispraksia motorik.<sup>1,2,19,20</sup><strong> </strong></p>
<p><strong>V. </strong><strong>Konseling Genetika</strong></p>
<p>Orang tua pasien harus diberikan informasi yang tidak bias tentang keadaan anak mereka yang menderita sindrom Klinefelter. Waktu yang paling tepat untuk menjelaskan keadaan sebenarnya pada penderita adalah pada usia dewasa akhir, dimana pada usia tersebut dianggap sudah bisa mengerti dan menerima kondisi yang sebenarnya.<sup>2,19,20,21</sup><strong> </strong></p>
<p><strong>VI. </strong><strong>Konseling Genetika Reproduksi</strong></p>
<p>Pasien dengan kariotip 47,XXY nonmosaik telah berhasil ditolong dalam hal reproduksi sehingga bisa menghasilkan keturunan. Namun terdapat resiko genetic pada anak yang dilahirkan. Resiko genetik pada keturunan pasien dengan kariotip 47,XXY masih belum diketahui dan diasumsikan rendah. Resiko ini terkait dengan kromosom seks dan aneuploidi autosomal. Konseling ini masih cukup sulit. Beberapa ahli merekomendasikan diagnosis preimplantasi atau prenatal setelah ICSI yang menggunakan sel sperma dari pasien dengan kariotip 47,XXY. Argumen dari para ahli yang mengusulkan <em>diagnosis genetic preimplantasi</em> (PGD) adalah meningkatnya resiko timbulnya kromosom seks abnormal pada keturunannya (bisa dalam bentuk kariotipe 47,XXX atau 47,XXY). <sup>2,19,20,21</sup><strong> </strong></p>
<p><strong>VII. </strong><strong>Penanganan Bedah</strong></p>
<p>Ketika memasuki masa puber, banyak anak laki-laki yang mengalami pembesaran payudara namun cenderung menghilang dalam waktu yang singkat. Hanya sekitar 10% pria XXY yang memerlukan mastektomi. Mastektomi diindikasikan pada ginekomastia yang menimbulkan tekanan psikologis pada pasien dan meningkatkan resiko kanker payudara. <sup>17,18,19,20</sup><strong> </strong></p>
<p><strong>VIII. </strong><strong>Konsultasi</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sindrom Klinefelter harus dikonsultasikan pada : ahli genetika, ahli endokrin, bedah, psikolog dan spesialis terapi wicara.<sup>20</sup><strong> </strong></p>
<p><strong>IX. </strong><strong>Diet</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tidak ada diet khusus untuk pasien sindrom Klinefelter<sup>2,20</sup><strong> </strong></p>
<p><strong>X. </strong><strong>Aktivitas</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tidak ada pembatasan aktivitas khusus bagi penderita sindrom Klinefelter<sup>2,20<strong> </strong></sup></p>
<p><strong>RINGKASAN</strong></p>
<p>Sindrom Kinefelter merupakan kelainan kromosom seks yang paling sering ditemukan. Kelainan ini didapatkan pada laki-laki yang membawa kromosom X tambahan yang menyebabkan hipogonadisme, defisiensi androgen, dan kerusakan spermatogenesis. Sebagian pasien menunjukkan semua gejala klasik kelainan ini yakni ginekomastia, testis yang kecil, rambut tubuh yang jarang, postur tinggi, dan infertil. Sedangkan pasien lainnya tidak menunjukkan semua gejala ini. Penanganannya terdiri atas terapi sulih testosteron untuk mengoreksi defisiensi androgen agar pasien mengalami virilisasi yang sesuai. Terapi ini juga member efek yang positif pada perbaikan mood, citra diri, dan terbukti melindungi pasien dari osteoporosis, walaupun tidak bisa mengembalikan kesuburan. Selain terapi androgen, dilakukan terapi wicara dan terapi tingkah laku, terapi okupasi dan fisik, terapi infetilitas, konseling genetika dan genetika reproduksi. Penanganan pasien sindrom Klinefelter akan lebih optimal bila melibatkan tim dan dukungan yang baik dari keluarga pasien.</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ol>
<li>Paduch DA, Fine RG, Bolyakov A, Kiper J. New concepts in Klinefelter syndrome. <em>Current Opinion in Urology.</em> 2008;18:621-627</li>
<li>Smyth CM, Bremmer WJ. Klinefelter Syndrome. <em>Arch Intern Med. </em><em>1998;158:1309-1314</em>.</li>
<li>Wattendore DJ, Muenke M. Klinefelter Syndrom. <em>Am Fam Physician</em> 2005;72:2259-62.</li>
<li>John R, Simon B, Suzanne B.Oxford Handbook of Urology.In: Boundouki G, Datta S, Rollin M, advisors. Paediatric Urology: Abnormal sexual differentiation.1<sup>st</sup> ed. Oxford: Oxford University Press;2006.p.524-553.</li>
<li>Baskin LS. Smith’s General Urology. In: Tanagho EA, McAninch JW,editors. Abnormalities of Sexual Determination &amp; Differentiation. 17<sup>th</sup> ed.  San Francisco: The McGraw Hill Companies ;2008.p.662-683</li>
<li>Anglade RE, Oates RD. Handbook of Urology: Diagnosis &amp; Therapy. In: Siroky MB, Oates RD, Babayan, RK,editors. Male reproductive disfunction.3<sup>rd</sup> ed. Boston: Lippincott Williams &amp; Wilkins:2004.p.146-163</li>
<li>Bojesen A, Juul S, Gravholt CH. Prenatal and postnatal prevalence of Klinefelter syndrome: A national registry study<em>. J. Clin. Endocrinol. Metab</em>.2003;88:622-626.</li>
<li>Chen H. Klinefelter syndrome. Medscape. Updated June 2009.</li>
<li>Bock R. Understanding Klinefelter syndrome : A guide for XXY Male and Their Families. <em>NIH Pub.</em> 1993;93-3202.</li>
</ol>
<p>10.  Thomas NS, Hassold TJ. Aberrant recombination and the origin of Klinefelter syndrome. <em>Human Reproduction</em>.2003;9(4):309-317.</p>
<p>11.  Bajosen A, Kristensen K, Birkebaek NH, et al. The metabolic syndrome is frequent in Klinefelter’s syndrome and is associated with abdominal obesity and hypogonadism. <em>Diabetic Care</em>. 2006;29:1591-1598.</p>
<p>12.  Kamischke A, Baumgardt A, Horst J, Nieschlag E. Clinical and diagnostic features of patient with suspected Klinefelter syndrome. <em>J Androl.</em> 200;24:41-48.</p>
<p>13.  Vorona E, Zitzmann M, Gromol J, et al. Clinical, endocrinological, and epigenetic features of the 46,XX male syndrome, compared with 47,XXY Klinefelter patients. <em>J. Clin. Endocrinol. Metab</em>.2007;92(9):3458-3465.</p>
<p>14.  Handelsman DJ, Liu PY. Editorial: Klinefelter’s syndrome-A microcosm of male reproductive health. <em>J. Clin. Endocrinol. Metab</em>.2006;91(4):1220-1222.</p>
<p>15.  Ratcliffe S. Long term outcome in children of sex chromosome abnormalities. <em>Arch Dis Child</em>. 1999;80:192-195.</p>
<p>16.  Bruining H, Swaab H, Kas M, Engeland HV. Psychiatric characteristic in a self-selected sample of boy with Klinefelter syndrome. <em>Pediatric</em>. 2009;123;e865-e870.</p>
<p>17.  Gonzalves J, Turek PJ, Schlegel PN, Hopps CV,Weier JF, Pera RR. Recombination in men with Klinefelter syndrome.<em> Reproduction</em>. 2005;130:223-229.</p>
<p>18.  Vernaeve V, Staessen C, Verheyen G, et al. Can biological or clinical parameter predict testicular sperm recovery in 47,XXY Klinefelter syndrome patients? <em>Human Reproduction</em>;2004;19(5):1135-1139.</p>
<p>19.  Koga M, Tsujimura A, Takeyama M, et al. Clinical comparison of succesful and failed microdissection testicular sperm extraction in paients with nonmosaic Klinefelter syndrome. <em>J Urology</em>. 2007;70(2):314-5.</p>
<p>20.  Hoyme HE, Manning MA, Diagnosis and management of adolescent boy with Klinefelter syndrome. <em>Adolesc Med</em>. 2002;13(2):367-74,vii.</p>
<p>21.  Reubinoff BE, Abeliovich D, Werner M, et al. A birth in non-mosaic Klinefelter’s syndrome after testicular fine needle aspiration, intracytoplasmic injection and preimplantation genetic diagnosis. <em>Human Reproduction</em>. 1998;13(7):1887-1892.</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:7037px;width:1px;height:1px;"><!--[if !mso]&gt; &lt;!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;     &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0 false    false false false  EN-US X-NONE X-NONE                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:EN-US;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-link:"Footer Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 234.0pt right 468.0pt; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:EN-US;} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-priority:99; 	color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:EN-US;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:EN-US;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:EN-US;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:EN-US;} span.FooterChar 	{mso-style-name:"Footer Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:21.0cm 841.95pt; 	margin:3.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:880362973; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1863574934 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:1046444486; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:304909640 1782614578 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:roman-upper; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-36.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-language:EN-US;} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:18pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Penatalaksanaan Sindrom Klinefelter</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Latar Belakang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Sindrom Klinefelter sebenarnya memiliki prevalensi yang tinggi dan mencangkup banyak gejala dalam bidang urologi, namun kurang mendapat perhatian dari para ahli urologi. Namun dalam10 tahun terakhir, dengan perkembangan teknik reproduksi artifisial dan keberhasilan kelahiran anak yang sehat dari seorang ayah yang menderita sindrom Klinefelter, keterlibatan ahli urologi dalam penatalaksanaan pasien makin meningkat. Dahulu sindrom Klinefelter hampir semuanya ditangani oleh ahli endokrinologi. Para urolog berperan penting dalam penatalaksanaan jangka panang pasien sindrom Klinefelter dalam hal fungsi reproduksi dan fungsi seksual pasien. Oleh karena itu penting untuk mempersiapkan para klinisi urologi dalam perkembangan ilmu tentang kelainan ini dengan memperbaharui pengetahuan tentang patofisiologi dan penatalaksanaan sindrom Klinefelter.<sup>1</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Sindrom Klinefelter pertama kali dideskripsikan pada tahun 1942 ketika Klinefelter dkk meneliti 9 pria dengan ginekomastia, testis yang kecil, azoospermia, dan peningkatan kadar gonadotropin. Mereka meyakini bahwa hipogonadisme berasal dari kegagalan sel sertoli dari testis sebagai tempat spermatogenesis. Distribusi rambut pubis dan axillar yang sesuai merupakan indikasi relatif normalnya fungsi sel Leydig yang menghasilkan testosteron. Mereka juga mengatakan bahwa pasien-pasien ini memiliki kadar hormon testikular yang rendah atau kadang tidak ada yang diatur oleh kadar gonadotropin pituitari melalui umpan balik inhibisi. Mereka menamakan hormone ini dengan hormone X atau inhibin.<sup>2,8</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Pada tahun 1949, Barr dan Bertram menemukan massa kromatin yang padat yang kemudian dinamakan seks kromatin atau <em>Barr body</em> di dalam nukleus sel saraf kucing betina namun tidak ditemukan ada pada kuncing jantan. Penemuan bahwa <em>Barr body</em> ada pada nucleus sel somatik wanita namun tidak pada pria inilah yang kemudian membedakan  antara kromosom pria dan wanita. Tahun 1956, dua kelompok peneliti menjelaskan 7 pasien dengan Sindrom Klinefelter menggunakan hasil pemeriksaan bukal yang menunjukkan adanya <em>Barr body</em>. Tahun 1959 ada penemuan bahwa pasien dengan Sindrom Klinefelter memiliki 47 kromosom, yaitu kromosom X tambahan (kariotip  47,XXY), yang menunjukkan bahwa <em>Barr body</em> yang ditemukan dalam sindrom Klinefelter merupakan kromosom X tambahan. Penelitian selanjutnya menemukann kelainan kromosom  X  pada sindrom Klinefelter yakni 48,XXXY dan variasi lainnya.<sup>2,8,9</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Epidemiologi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Sindrom Klinefelter merupakan kelainan kromosom seks yang paling sering. Kelainan ini mengenai laki-laki yang  membawa kromososm X tambahan yang meyebabkan terjadinya hipogonadisme pada pria, defisiensi androgen, dan kerusakan spermatogenesis. Beberapa pasien mungkin menunjukkan gejala klasik yakni ginekomastia, testis kecil, rambut tubuh yang jarang, postur tinggi dan infertil atau manifestasi klinis lainnya.<sup>2,3</sup> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Kelainan ini ditemukan satu dalam 500-1.000 bayi laki-laki lahir dengan kromosom X tambahan yakni, 47,XXY. Kariotip inilah yang menyebabkan sindrom Klinefelter. Kariotip ini dideteksi pada atau sebelum kelahiran dalam 10 persen anak laki-laki yang menderita sindrom Klinefelter, dan ditemukan pada 25% orang dewasa yang mengelami kelainan ini. Dulu dikatakan bahwa hampir semua pria dengan kariotip 47,XXY akan infertile. Sindrom Klinefelter terhitung 3% menjadi penyebab infertiltas pada pria dengan oligospermia atau azoospremia (5-10 persen).Kelainan kromososom seks yang paling sering ini perlu penanganan khusus dan komprehensif sehingga bisa menurukan angka morbiditas dan mortalitas serta meningkatkan kualitas hidup penderita sindrom Klinefelter.<sup>4,5,6,7</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Prevalensi sindrom Klinefelter  2-20 kali pada individu yang menderita retardasi mental dibandingkan populasi bayi baru lahir pada umumnya.  Lebih kurang 40% konsepsi dengan Sindrom Klinefelter mati pada periode fetalis. Sekitar 250.000 pria di AS menderita Sindrom Klinefelter. Secara umum, berat ringannnya malformasi pada Sindrom Klinefelter tergantung jumlah kromosom X. Retardasi mental dan hipogonadisme lebih berat pada pasien dengan kariotip 49,XXXXY dibandingkan dengan 48,XXXY. Angka kematian tidak berbeda secara signifikan dengan individu yang sehat.<sup>2,8,9</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Sindrom Klinefelter tidak memiliki predileksi ras. Hanya didapatkan pada pria karena disebabkan oleh penambahan kromosom X pada kromosom XY. Paling banyak tidak bisa terdiagnosis sampai dewasa. Indikasi yang paling sering untuk pemeriksaan genetik adalah ditemukannya hipogonadisme dan infertilitas.<sup>8,9</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Etiologi dan Patofisiologi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Adanya kromosom X tambahan ini dipertimbangkan sebagai faktor etiologi dasar Sindrom Klinefelter. Kromosom X tambahan ini merupakan komponen utama dari kelainan yang pertama kali ditemukan oleh Klinefelter dkk, namun berlawanan dengan hipotesis yang mereka usulkan yakni sindrom Klinefelter disebabkan oleh adanya hipofungsi sel Leydig, walaupn kadar testosteron mungkin masih dalam batas normal dan pasien menunjukkan berbagai tingkat virilisasi. Namun hipotesis mereka benar tentang adanya hormon testikular sekunder.<sup>1,2,8,9</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Penelitian yang terbaru menemukan kadar zat yang dinamakan inhibin B, yakni bentuk aktif dari inhibin yang berasal dari sel Sertoli berhubungan erat dengan fungsi sel Sertoli dan ditemukan dalam kadar yang sangat rendah pada pasien dengan sindrom Klinefelter.<sup>1,2,8,9</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Kromosom X membawa gen yang berperan penting pada berbagai sistem tubuh, yakni fungsi testis, perkembangan otak, dan pertumbuhan. Penambahan lebih dari satu kromosom X atau Y pada kariotip laki-laki akan menyebabkan berbagai kelainan fisik dan kognitif. Secara umum akan menyebabkan adanya abnormalitas fenotip, misalnya retardasi mental, yang secara langsung berhubungan dengan kelebihan jumlah kromosom X. Makin banyak jumlah kromosom X, makin banyak pula kelainan perkembangan somatik dan kognitif yang dipengaruhi.<sup>1,2,8.9</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Sindrom Klinefelter merupakan bentuk kegagalan testikular primer. Peningkatan kadar gonadotropin disebabkan oleh hilangnya inhibisi umpan balik ke kelenjar pituitari. Walaupun fungsi endokrin testikular mungkin rendah sebagaimana masa kehidupan fetalis dengan kadar testosterone dari aliran darah plasenta janin yang memiliki kromosom XXY lebih rendah dari janin normal, fungsi gonad-pituitary pada pasien sindrom Klinefelter ditemukan normal setelah lahir sampai puber. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa sperma ditemukan pada lebih dari 50% pria dengan sindrom Klinefelter.<sup>1,9</sup> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Patogenesis terjadinya ginekomastia pada pasien Sindrom Klinefelter masih tidak jelas. Diduga akibat peningkatan kadar esradiol dalam serum yang berasal dari peningkatan konversi testosteron menjadi estradiol dan penurunan <em>clearance</em> estradiol.<sup>2,3</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Tujuan Penulisan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Tujuan penulisan referat ini adalah untuk menguraikan penatalaksanaan pasien yang menderita sindrom Klinefelter dengan menekankan pada intervensi yang bisa dilakukan oleh seorang ahli urologi yakni pada terapi defisiensi androgen dan penanganan infertilitas. Diharapkan pasien yang menderita sindrom Klinefelter dapat ditangani  lebih awal dan lebih baik. Diagnosis dan penanganan yang lebih awal dapat meningkatkan kualitas hidup dan status kesehatan pria yang menderita sindrom Klinefelter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Diagnosis dan penatalaksaan pasien sindrom Klinefelter termasuk dalam lingkup dan pelatihan untuk ahli urologi. Perkembangan penelitian yang membandingkan beberapa model penatalaksanaan kelainan in pada pria dewasa dan anak-anak akan memungkinkan kita untuk membuat standar penatalaksaan pada pasien-pasien ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">PENATALAKSANAAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Penatalaksanaan pria yang menderita Sindrom Klinefelter cukup menantang. Salah satu tujuan penatalaksanaan ini adalah agar penderita sindrom Klinefelter bisa melakukan fungsi reproduksi.  Kebanyakan pria datang ke dokter dengan keluhan infertilitas dan mencari pengobatan intervensi terutama ekstraksi sperma testicular (TESE) mikrobedah dengan fertilisasi in vitro (IVF). Pilihan  terapi pada usia remaja berbeda dengan orang dewasa, terutama pada remaja yang lebih muda. Usaha untuk mempertahankan kesuburan harus didiskusikan dengan orang tua.<sup>1.9</sup> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Pada pasien yang tidak tertarik pada terapi infertilitas, difokuskan pada terapi sulih testosteron, mempertahankan kesehatan secara umum, kesehatan tulang yang adekuat, dan menurunkan resiko thrombosis vena dalam.<sup>1,9</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Identifikasi yang lebih awal dan petunjuk penatalaksanaan sangat membantu karena sindrom Klinefelter jarang terdiagnosis sebelum masa puber. Penanganan kelainan ini ditujukan pada 3 hal, yakni : hipogonadisme, ginekomastia, dan masalah psikososial.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">I.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Terapi Androgen</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Terapi androgen adalah hal yang terpenting dalam sindrom Klinefelter. Pemberian testosteron (testosterone replacement) harus dimulai pada saat pubertas, yakni sekitar umur 12 tahun. Dosisnya ditingkatkan sampai cukup  untuk mempertahankan konsentrasi testosteron, estradiol, <em>follicle-stimulating hormone </em>(FSH), dan <em>Luteinizing Hormon</em> (LH) dalam serum sesuai umur.<sup>1,9,10,11</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Terapi androgen digunakan untuk mengoreksi defisiensi androgen, memungkinkan virilisasi yang sesuai, dan untuk memperbaiki status psikososial. Injeksi testosteron secara teratur dapat memacu kekuatan otot dan pertumbuhan rambut wajah, membuat lebih banyak jenis otot tubuh, meningkatkan nafsu seksual, memperbesar testis, memperbaiki mood, citra diri dan perilaku dan memberikan perlindungan terhadap osteoporosis dini.<sup>9,10,12,13</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Androgen eksogen (testoteron) merupakan terapi pilihan untuk sindrom Klinefelter. Biasanya dalam bentuk testosterone enantat (Delatestryl) atau cypionate (depo-testosteron). Dosis dewasa : 200 mg IM 4 kali dalam 2-3 minggu. Dosis anak : dimulai pada usia 11-12 tahun, 50 mg 4 kali/bulan. Dosis ditingkatkan pertahun menurut keadaan pasien, tingkat virilisasi, pertumbuhan, kadar gonadotropin serum, sampai mencapai dosis orang dewasa.<sup>4,10,14,15</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Respon individual terapi testosterone bisa berbeda-beda. Namun sebagian besar terapi ini memberikan efek yang menguntungkan, hanya sedikit yang tidak. Efek samping injeksi testosterone sedikit. Beberapa orang mengalami gejala alergi pada tempat injeksi yang kadang gatal dan bengkak seperti digigit nyamuk. Krim hidrokortison dapat mengatasi masalah ini.<sup>16,17</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Injeksi testoteron dapat menyebabkan pembesaran prostat jinak (BPH). Pada pria normal BPH biasanya muncul pada usia 60-an sedangkan pada pria XXY yang mendapatkan suntikan testosterone, BPH bisa muncul dalam usia di atas 40 tahun sehingga perlu dilakukan pemeriksaan prostat secara regular. Bila membesar dapat dilakukan tindakan pembedahan.<sup>16,17</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">II.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Terapi Infertilitas</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Karena sterilitas merupakan perhatian utama orang tua dan pasien remaja, beberapa pusat penelitian mengembangkan program untuk pemeliharaan fertilitas pada anak laki-laki dengan kelainan kromosom dengan menggunanakan prinsip yang hampir sama dengan yang digunakan untuk anak-anak dan remaja yang akan menjalani kemoterapi atau terapi radiasi.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Beberapa pusat onkologi dilakukan kriopreservasi sperma pada penderita sindrom Klinefelter remaja postpuber dan orang dewasa. Tindakan inidisamakan dengan pasien yang akan menjalani kemoterapi dan menjadi standar perawatan pada orang dewasa dan dewasa muda yang menjalani kemoterapi yang bisa mengakibatkan kemandulan. Ada penelitian yang menemukan bahwa sindrom Klinefelter merupakan penyebab 97% kemandulan pada pria. Oleh karena itu setiap usaha seharusnya dilakukan untuk memelihara kesuburan pada anak-anak yang didiagnosa dengan sindrom Klinefelter. Kehilangan sel spermatogonia pada pria sindrom Klinefelter terjadi secara progresif. Hampir semua anak laki-laki dengan sindrom Klinefelter lahir dengan spermatogonia mengalami apoptosis yang massif menjelang masa pubertas. Pada masa pubertas awal, nampaknya ada  saat  dimana spermatogenesis mulai terjadi dan sperma ditemukan dalam ejakulat. Penyimpanan sperma ejakulat ini tidak hanya menawarkan keuntungan pada pasien demi kelanjutan fungsi biologis reproduksinya namun juga memiliki efek yang positif dalam perkembangan psikologis pada seorang dewasa yang beberapa tahun sebelumnya identik dengan kemandulan. Prospek penyimpanan sperma memunculkan adanya diskusi tentang pemeliharaan kesuburan pada seorang dewasa muda yang akan mandul seiring dengan perjalanan waktu.<sup>2,9,17,18,19</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Beberapa teknik baru seperti <em>xenografting</em> testis dan transplantasi stem sel spermatogonia sedang diteliti. Ada juga program yang bertujuan untuk maturasi spermatogonia dari anak laki-laki yang menderita sindrom Klinefelter. Waktu yang optimal untuk biopsi testis adalah ketika spermatogenesis sedang berlangsung menuju tahap penyelesaian dan sperma yang bergerak dapat diambil. Biasanya dilakukan pada pria yang tidak bisa ejakulasi atau tidak ada sperma dalam ejakulatnya. Saat ini ada yang menggunakan USG skrotum dan spektroskopi MRI untuk pasien dewasa untuk menentukan waktu yang optimal untuk biopsi testis.<sup>2,9,17,18,19</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Pria yang menderita sindrom Klinefelter diperkirakan infertil sampai tahun 1996. Setelah 10 dekade terakhir, perkembangan dalam  teknik bedah mikro  dan perkembangan teknologi reproduktif artifisial memungkinkan lebih dari 50% pasien yang menderita sindrom Klinefelter memiliki anak melalui teknik kombinasi  bedah mikro eksraksi sperma testicular (TESE) dan penggunaan sperma yang diperoleh secara segar untuk fertilisasi in vitro (IVF). Kenyataan bahwa sperma dapat ditemukan dalam testis pria sindrom Klinefelter telah menolak asumsi sebelumnya yang mengatakan bahwa pria dengan sindrom Klinefelter selalu steril. Saat ini spermatozoa yang <em>viable</em> dapat diekstraksi dari testis mealui biopsi bedah, dan spermatozoa dapat disuntikkan secara langsung ke dalam suatu ovum.<sup>2,9,18,19</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Microsurgery Testicular Sperm Extraction (Micro TESE)</span></em></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&amp;">(gambar dari </span><a href="http://www.health-res.com/for-non-obstructive-azoospermia/"><span style="font-family:&amp;">http://www.health-res.com/for-non-obstructive-azoospermia/</span></a><span style="font-family:&amp;">)</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> <em>In Vitro Fertilization</em> (IVF) </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> G</span><span style="font-family:&amp;">ambar dari http://www.panama-guide.com/article.php/</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Lebih dari 60 anak telah lahir setelah keberhasilan injeksi sperma intra sitoplasmik (ICSI) pada pasangan dimana prianya menderita sindrom Klinefelter. Hanya sedikit pria dengan sindrom Klinefelter yang memiliki sperma hidup dalam ejakulat mereka dan mampu menghasilkan sperma untuk kriopreservasi pada kehamilan selanjutnya.<sup>2,19,20,21</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><sup><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></sup></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></strong><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Proses <em>intracytoplasmic sperm injection</em> (ICSI)</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&amp;"> (gambar dari http://www.panama-guide.com/article.php/)</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">III.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Terapi Bicara dan Tingkah Laku</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Pendekatan tim secara multidisiplin dapat membantu perbaikan kelainan berbicara, kesulitan akademik, dan masalah psikososial serta masala  tingkah laku lainnya.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Pada anak-anak, terapi bicara dan bahasa secara dini sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan memahami dan menghasilkan kemampuan bahasa yang lebih baik. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Pria yang menderita Sindrom Klinefelter harus dilakukan evaluasi psikoedukasi yang komprehensif untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan mereka. Informasi yang diperoleh dari evaluasi ini bisa membantu dalam merencanakan jenis dan penempatan kelas di sekolah.<sup>2,19,20</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">IV.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Terapi Okupasi dan Fisik</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Terapi fisik harus direkomendasikan pada anak laki-laki yang mengalami hipotonia atau keterlambatan kemampuan motorik yang mempengaruhi tonus otot, keseimbangan, dan kordinasi. Terapi okupasional dianjurkan pada anak laki-laki yang mengalami dispraksia motorik.<sup>1,2,19,20</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">V.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Konseling Genetika</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Orang tua pasien harus diberikan informasi yang tidak bias tentang keadaan anak mereka yang menderita sindrom Klinefelter. Waktu yang paling tepat untuk menjelaskan keadaan sebenarnya pada penderita adalah pada usia dewasa akhir, dimana pada usia tersebut dianggap sudah bisa mengerti dan menerima kondisi yang sebenarnya.<sup>2,19,20,21</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">VI.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Konseling Genetika Reproduksi</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Pasien dengan kariotip 47,XXY nonmosaik telah berhasil ditolong dalam hal reproduksi sehingga bisa menghasilkan keturunan. Namun terdapat resiko genetic pada anak yang dilahirkan. Resiko genetik pada keturunan pasien dengan kariotip 47,XXY masih belum diketahui dan diasumsikan rendah. Resiko ini terkait dengan kromosom seks dan aneuploidi autosomal. Konseling ini masih cukup sulit. Beberapa ahli merekomendasikan diagnosis preimplantasi atau prenatal setelah ICSI yang menggunakan sel sperma dari pasien dengan kariotip 47,XXY. Argumen dari para ahli yang mengusulkan <em>diagnosis genetic preimplantasi</em> (PGD) adalah meningkatnya resiko timbulnya kromosom seks abnormal pada keturunannya (bisa dalam bentuk kariotipe 47,XXX atau 47,XXY). <sup>2,19,20,21</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">VII.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Penanganan Bedah</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Ketika memasuki masa puber, banyak anak laki-laki yang mengalami pembesaran payudara namun cenderung menghilang dalam waktu yang singkat. Hanya sekitar 10% pria XXY yang memerlukan mastektomi. Mastektomi diindikasikan pada ginekomastia yang menimbulkan tekanan psikologis pada pasien dan meningkatkan resiko kanker payudara. <sup>17,18,19,20</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">VIII.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Konsultasi</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Sindrom Klinefelter harus dikonsultasikan pada : ahli genetika, ahli endokrin, bedah, psikolog dan spesialis terapi wicara.<sup>20</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">IX.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Diet</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Tidak ada diet khusus untuk pasien sindrom Klinefelter<sup>2,20</sup></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">X.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Aktivitas</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Tidak ada pembatasan aktivitas khusus bagi penderita sindrom Klinefelter<sup>2,20<strong> </strong></sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">RINGKASAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> Sindrom Kinefelter merupakan kelainan kromosom seks yang paling sering ditemukan. Kelainan ini didapatkan pada laki-laki yang membawa kromosom X tambahan yang menyebabkan hipogonadisme, defisiensi androgen, dan kerusakan spermatogenesis. Sebagian pasien menunjukkan semua gejala klasik kelainan ini yakni ginekomastia, testis yang kecil, rambut tubuh yang jarang, postur tinggi, dan infertil. Sedangkan pasien lainnya tidak menunjukkan semua gejala ini. Penanganannya terdiri atas terapi sulih testosteron untuk mengoreksi defisiensi androgen agar pasien mengalami virilisasi yang sesuai. Terapi ini juga member efek yang positif pada perbaikan mood, citra diri, dan terbukti melindungi pasien dari osteoporosis, walaupun tidak bisa mengembalikan kesuburan. Selain terapi androgen, dilakukan terapi wicara dan terapi tingkah laku, terapi okupasi dan fisik, terapi infetilitas, konseling genetika dan genetika reproduksi. Penanganan pasien sindrom Klinefelter akan lebih optimal bila melibatkan tim dan dukungan yang baik dari keluarga pasien.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">1.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Paduch DA, Fine RG, Bolyakov A, Kiper J. New concepts in Klinefelter syndrome. <em>Current Opinion in Urology.</em> 2008;18:621-627</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">2.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Smyth CM, Bremmer WJ. Klinefelter Syndrome. </span><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Arch Intern Med. </span></em><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-style:normal;">1998;158:1309-1314</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">.</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">3.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Wattendore DJ, Muenke M. Klinefelter Syndrom. <em>Am Fam Physician</em> 2005;72:2259-62.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">4.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">John R, Simon B, Suzanne B.Oxford Handbook of Urology.In: Boundouki G, Datta S, Rollin M, advisors. Paediatric Urology: Abnormal sexual differentiation.1<sup>st</sup> ed. Oxford: Oxford University Press;2006.p.524-553.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">5.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Baskin LS. Smith’s General Urology. In: Tanagho EA, McAninch JW,editors. Abnormalities of Sexual Determination &amp; Differentiation. 17<sup>th</sup> ed.  San Francisco: The McGraw Hill Companies ;2008.p.662-683</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">6.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Anglade RE, Oates RD. Handbook of Urology: Diagnosis &amp; Therapy. In: Siroky MB, Oates RD, Babayan, RK,editors. Male reproductive disfunction.3<sup>rd</sup> ed. Boston: Lippincott Williams &amp; Wilkins:2004.p.146-163</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">7.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Bojesen A, Juul S, Gravholt CH. Prenatal and postnatal prevalence of Klinefelter syndrome: A national registry study<em>. J. Clin. Endocrinol. Metab</em>.2003;88:622-626.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">8.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Chen H. Klinefelter syndrome. Medscape. Updated June 2009.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">9.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Bock R. Understanding Klinefelter syndrome : A guide for XXY Male and Their Families. <em>NIH Pub.</em> 1993;93-3202.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">10.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Thomas NS, Hassold TJ. Aberrant recombination and the origin of Klinefelter syndrome. <em>Human Reproduction</em>.2003;9(4):309-317.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">11.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Bajosen A, Kristensen K, Birkebaek NH, et al. The metabolic syndrome is frequent in Klinefelter’s syndrome and is associated with abdominal obesity and hypogonadism. <em>Diabetic Care</em>. 2006;29:1591-1598.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">12.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Kamischke A, Baumgardt A, Horst J, Nieschlag E. Clinical and diagnostic features of patient with suspected Klinefelter syndrome. <em>J Androl.</em> 200;24:41-48.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">13.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Vorona E, Zitzmann M, Gromol J, et al. Clinical, endocrinological, and epigenetic features of the 46,XX male syndrome, compared with 47,XXY Klinefelter patients. <em>J. Clin. Endocrinol. Metab</em>.2007;92(9):3458-3465.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">14.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Handelsman DJ, Liu PY. Editorial: Klinefelter’s syndrome-A microcosm of male reproductive health. <em>J. Clin. Endocrinol. Metab</em>.2006;91(4):1220-1222.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">15.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Ratcliffe S. Long term outcome in children of sex chromosome abnormalities. <em>Arch Dis Child</em>. 1999;80:192-195.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">16.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Bruining H, Swaab H, Kas M, Engeland HV. Psychiatric characteristic in a self-selected sample of boy with Klinefelter syndrome. <em>Pediatric</em>. 2009;123;e865-e870.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">17.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Gonzalves J, Turek PJ, Schlegel PN, Hopps CV,Weier JF, Pera RR. Recombination in men with Klinefelter syndrome.<em> Reproduction</em>. 2005;130:223-229.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">18.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Vernaeve V, Staessen C, Verheyen G, et al. Can biological or clinical parameter predict testicular sperm recovery in 47,XXY Klinefelter syndrome patients? <em>Human Reproduction</em>;2004;19(5):1135-1139.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">19.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Koga M, Tsujimura A, Takeyama M, et al. Clinical comparison of succesful and failed microdissection testicular sperm extraction in paients with nonmosaic Klinefelter syndrome. <em>J Urology</em>. 2007;70(2):314-5.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">20.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Hoyme HE, Manning MA, Diagnosis and management of adolescent boy with Klinefelter syndrome. <em>Adolesc Med</em>. 2002;13(2):367-74,vii.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">21.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;">Reubinoff BE, Abeliovich D, Werner M, et al. A birth in non-mosaic Klinefelter’s syndrome after testicular fine needle aspiration, intracytoplasmic injection and preimplantation genetic diagnosis. <em>Human Reproduction</em>. 1998;13(7):1887-1892.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&amp;"> </span></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urologynotes.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urologynotes.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urologynotes.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urologynotes.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urologynotes.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urologynotes.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urologynotes.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urologynotes.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urologynotes.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urologynotes.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urologynotes.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urologynotes.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urologynotes.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urologynotes.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=143&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urologynotes.wordpress.com/2010/05/26/penatalaksanaan-sindrom-klinefelter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93cf34cd9afa48739b45ee27bc87908a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjier</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urologynotes.files.wordpress.com/2010/05/jabir.jpg?w=267" medium="image">
			<media:title type="html">Jabir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengurangi Resiko Kanker Prostat</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com/2010/05/15/mengurangi-resiko-kanker-prostat/</link>
		<comments>http://urologynotes.wordpress.com/2010/05/15/mengurangi-resiko-kanker-prostat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 16:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjier</dc:creator>
				<category><![CDATA[Prostat]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[benign prostat hypertophy]]></category>
		<category><![CDATA[bph]]></category>
		<category><![CDATA[kanker prostat]]></category>
		<category><![CDATA[TURP]]></category>
		<category><![CDATA[unair]]></category>
		<category><![CDATA[urologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urologynotes.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Kanker prostat merupakan kanker terbanyak pada pria. Tercatat sebagai kanker pembunuh kedua pada pria setelah kanker paru-paru. Resiko menderita penyakit ini meningkat dengan makin bertambahnya usia. Paling banyak ditemukan pada usia diatas 60 tahun. Namun tidak jarang di usia di kurang dari 50 tahun.Seorang pria yang memiliki ayah atau paman yang menderita kanker prostat memiliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=140&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://stat.kompasiana.com/files/2010/05/kanker-prostat.jpg"><img class="alignleft" src="http://stat.kompasiana.com/files/2010/05/kanker-prostat-300x224.jpg" alt="Kanker Prostat, Ancaman bagi pria" width="210" height="157" /></a>Kanker prostat merupakan kanker terbanyak pada pria. Tercatat sebagai kanker pembunuh kedua pada pria setelah kanker paru-paru. Resiko menderita penyakit ini meningkat dengan makin bertambahnya usia. Paling banyak ditemukan pada usia diatas 60 tahun. Namun tidak jarang di usia di kurang dari 50 tahun.Seorang pria yang memiliki ayah atau paman yang menderita kanker prostat memiliki resiko tinggi untuk menderita kanker ini. Jika ayah atau paman terkena kanker prostat, maka keturunan laki-laki terdekatnya akan 2,87-4,5 kali lebih besar terkena kanker prostat dibandingkan dengan mereka yang ayah atau pamannya tidak mempunyai kanker prostat.Faktor lain yang diduga menyebabkan seorang pria mudah menderita kanker ini antara lain gaya hidup yang tidak sehat dan jarang ejakuasi.<img title="More..." src="http://www.kompasiana.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-140"></span></p>
<p>American Cancer Society mencatat 192.280 kasus baru di tahun 2009. Sekitar 27.360 pria meninggal dengan kanker prostat di tahun yang sama. Sebagaimana penyakit kanker pada umumnya, penyebab pasti kanker prostat belum diketahui. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa pada penderita kanker prostat membawa gen yang dinamakan gen E2F3. Sebagai pria, kita hanya bisa melakukan hal-hal yang bisa mengurangi atau menghindari resiko menderita kanker prostat ini.</p>
<ol>
<li><strong>Gaya hidup sehat</strong> dengan olah raga teratur, makan yang seimbang, tidak minum alkohol. Para dokter mengamati ternyata pada pria yang tampil bugar lebih sedikit menderita kanker prostat.</li>
<li><strong>Rajin mengkosumsi brokoli</strong>. Brokoli dipercaya mengurangi resiko kanker terjadinya kanker prostat. Brokoli memiliki sejenis bahan khusus yang sangat kuat bernama <em>sulforaphane</em>, yang diyakini membuat sayuran-sayuran hijau memiliki senjata  ekstra penangkal kanker.</li>
<li><strong>Rajin minum jus tomat, apel dan sayur buncis</strong>. Likopen yang terdapat pada tomat berhubungan dengan resiko rendah terkena kanker prostat. Selain tomat, ternyata buah apel dan buncis juga punya khasiat mencegah kanker prostat karena kandungan senyawa aktif<em> quacertin</em>. Pada uji laboratorium, Nianzeng Xing, ahli kanker dari Departemen Urologi di Mayo Clinic, membuktikan bahwa<em> quacertin</em>, sanggup memblokir reseptor hormon pria (androgen) sehingga bisa mencegah kanker prostat.</li>
<li><strong>Minum kopi rutin.</strong> Para ahli dari <em>Harvard Medical Schoo</em>l dalam presentasinya di konferensi <em>American Association for Cancer Research di Houston</em>, AS, mengatakan bahwa pria yang rutin minum kopi risikonya terkena kanker prostat berkurang hingga 60 persen bila dibandingkan dengan pria yang tidak minum kopi. Hehe.. ternyata tak sia-sia juga saya kecanduan minum kopi.</li>
<li><strong>Ejakulasi teratur</strong>. Ejakulasi sebanyak 3 kali per minggunya akan menurunkan secara langsung risiko kanker prostat hingga 15% . Menurut <em>Journal of the American Medical Association</em>, untuk mencegah terbentuknya kanker prostat, para peneliti menyarankan agar seorang pria melakukan ejakulasi minimal 12 kali dalam sebulan. So, bagi pria yang belum menikah, segeralah menikah agar bisa ejakulasi teratur.  Para menganjurkan untuk  melakukan seks dengan istri. Karena ketimbang melakukan masturbasi, melakukan seks langsung dengan pasangan akan lebih menyehatkan. <em>The British Journal of Urology </em>menemukan bahwa aktivitas seksual para pria usia 50-an tahun bisa memberi perlindungan dari penyakit ini. Alhamdulillah saya sudah menikah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Bagi mereka yang beresiko tinggi (ada faktor genetik-ayah atau paman menderita kanker prostat) disarankan <strong>minum obat pencegah kanker prostat</strong> walaupun umur mereka belum mencaai usia 50 tahun. Obat terbaru adalah <em>dutasteride</em> dan<em> finasteride</em>. Obat ini bisa biasa diresepkan oleh dokter ahli Urologi.</li>
</ol>
<p>Semoga bermanfaat (diolah dari berbagai sumber).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urologynotes.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urologynotes.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urologynotes.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urologynotes.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urologynotes.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urologynotes.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urologynotes.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urologynotes.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urologynotes.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urologynotes.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urologynotes.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urologynotes.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urologynotes.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urologynotes.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=140&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urologynotes.wordpress.com/2010/05/15/mengurangi-resiko-kanker-prostat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93cf34cd9afa48739b45ee27bc87908a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjier</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://stat.kompasiana.com/files/2010/05/kanker-prostat-300x224.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kanker Prostat, Ancaman bagi pria</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.kompasiana.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">More...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TURP</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com/2010/05/15/turp/</link>
		<comments>http://urologynotes.wordpress.com/2010/05/15/turp/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 16:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjier</dc:creator>
				<category><![CDATA[Prostat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urologynotes.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Transurethral resection of the prostate (TURP) merupakan standar pembedahan endoskopik untuk Benign Prostat Hypertrophy (pembesaran prostat jinak).  TURP dilakukan dengan cara bedah elektro (electrosurgical) atau metode alternative lain yang bertujuan untuk mengurangi perdarahan, masa rawat inap, dan absorbsi cairan saat operasi.  Metode alternatif ini antara lain vaporization TURP (VaporTode), TURP bipolar, vaporisasi fotoselektif prostat (PVP), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=135&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em> </em></p>
<div id="attachment_136" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><em><em><a href="http://urologynotes.files.wordpress.com/2010/05/turp.jpg"><img class="size-medium wp-image-136 " title="TURP" src="http://urologynotes.files.wordpress.com/2010/05/turp.jpg?w=180&#038;h=126" alt="" width="180" height="126" /></a></em></em><p class="wp-caption-text">TURP (emedicine.com)</p></div>
<p><em>Transurethral resection of the prostate</em> (TURP) merupakan standar pembedahan endoskopik untuk Benign Prostat Hypertrophy (pembesaran prostat jinak).  TURP dilakukan dengan cara bedah elektro (electrosurgical) atau metode alternative lain yang bertujuan untuk mengurangi perdarahan, masa rawat inap, dan absorbsi cairan saat operasi.  Metode alternatif ini antara lain vaporization TURP (VaporTode), TURP bipolar, vaporisasi fotoselektif prostat (PVP), dan enuleasi laser holmium serta tidanakan invasive minimal lainnya seperti injeksi alcohol, pemasangan stent prostat, laser koagulasi.<span id="more-135"></span></p>
<p>Menurut <em>Agency for Health Care Policy and Research guidelines</em>, indikasi absolut pembedahan pada BPH adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Retensi urine yang berulang.</li>
<li>Infeksi saluran kemih rekuren akibat pembesaran prostat.</li>
<li>Gross hematuria berulang.</li>
<li>Insufisiensi ginjal akibat obstruksi saluran kemih pada buli.</li>
<li>Kerusakan permanen buli atau kelemahan buli-buli.</li>
<li>Divertikulum yang besar pada buli yang menyebabkan pengosongan buli terganggu akibat pembesaran prostat.</li>
</ol>
<p>Secara umum pasien dengan gejala LUTS sedang-berat yang tidak berespon terhadap pengobatan dengan alfa-adrenergik bloker dan/atau 5-alfa reduktase blok inhibitor dipertimbangakan untuk menjalani prosedur pembedahan. TURP diindikasikan pada pasien dengan gejala sumbatan saluran kencing menetap dan  progresif akibat pembesaran prostat yang tidak mengalami perbaikan dengan terapi obat-obatan.</p>
<p>Kontraindikasi TURP</p>
<p>TURP merupakan prosedur elektif dan tidak direkomendasian pada pasien tertentu. Hampir semua kontraindikasinya adalah kontraindikasi relatif, berdasarkan kondisi komorbid pasien dan kemampuan pasien dalam menjalani prosedur bedah dan anestesi.  Kontraindikasi relatif antara lain adalah status kardipulmoner yang tidak stabil atau adanya riwayat kelainan perdarahan yang tidak bisa disembuhkan. Pasien yang baru  mengalami infark miokard dan dipasang stent arteri koroner sebaiknya ditunda sampai 3 bulan bila akan dilakukan TURP.</p>
<p>Pasien dengan disfungsi spingter  uretra eksterna seperti pada penderita miastenia gravis, multiple sklerosis,atau Parkinson dan/atau buli yang hipertonik tidak bleh dilakukan TURP karena akan menyebabkan inkontinensia setelah operasi. Demikian pula pada pasien yang mengalami fraktur pelvis mayor yang menyebabkan kerusakan spingter uretra eksterna. TURP akan menyebabkan hilangnya spingter urin internal sehingga pasien secara total akan tergantung pada fungsi otot spingter eksternal untuk tetap kontinen. Jika spingter eksternal rusak, trauma, atau mengalami disfungsi, pasien akan mengalami inkontinesia.</p>
<p>Kontrandikasi yang lain adalah pasien kanker prostat yang baru menjalani radioterapi terutama brachyterapi atau krioterapi dan infeksi saluran kencing yang aktif.</p>
<p>Sumber : emedicine.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urologynotes.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urologynotes.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urologynotes.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urologynotes.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urologynotes.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urologynotes.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urologynotes.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urologynotes.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urologynotes.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urologynotes.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urologynotes.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urologynotes.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urologynotes.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urologynotes.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=135&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urologynotes.wordpress.com/2010/05/15/turp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93cf34cd9afa48739b45ee27bc87908a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjier</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urologynotes.files.wordpress.com/2010/05/turp.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">TURP</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diagnosis Ejakulasi Dini</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/20/diagnosis-ejakulasi-dini/</link>
		<comments>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/20/diagnosis-ejakulasi-dini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 18:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjier</dc:creator>
				<category><![CDATA[andrologi]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosis]]></category>
		<category><![CDATA[ejakulasi prematur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urologynotes.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dok, sebenarnya saya sudah lama mau nanya sama Dokter tentang masalah saya. Tapi saya malu-malu.&#8221; Pria tegap dan kekar itu nampak tersenyum malu-malu. &#8221; Bilang saja, Pak. Siapa tahu saya bisa membantu.&#8221; &#8221; Begini, Dok. Mungkin kalau Dokter melihat fisik saya, Dokter tidak akan percaya kalau saya tidak bisa apa-apa di tempat tidur.&#8221; Raut mukannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=128&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-131" title="ejakulasi dini" src="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/10/prostate_enlarged_z2.jpg?w=129&#038;h=150" alt="ejakulasi dini" width="129" height="150" />&#8220;Dok, sebenarnya saya sudah lama mau nanya sama Dokter tentang masalah saya. Tapi saya malu-malu.&#8221; Pria tegap dan kekar itu nampak tersenyum malu-malu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Bilang saja, Pak. Siapa tahu saya bisa membantu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Begini, Dok. Mungkin kalau Dokter melihat fisik saya, Dokter tidak akan percaya kalau saya tidak bisa apa-apa di tempat tidur.&#8221; Raut mukannya nampak serius.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Maksudnya bagaimana? Gak bisa tahan lama begitu?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iya, Dok. Kalau keadaan saya begini terus, saya kadang khawatir istri saya bisa selingkuh.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-128"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Petikan percakapan diatas merupakan salah satu percakapan saya dengan beberapa pria yang mengalami ejakulasi dini. Ejakulasi dini atau ejakulasi prematur merupakan salah satu masalah seksual pria. Namun kadang masi merupakan hal yang tabu untuk didiskusikan dengan dokter. Kadang saya masih menemukan pasien yang bertele-tele sebelum mengatakan  keluhan sebenarnya. Penelitian di Eropa menunjukkan bahwa sekitar 30% populasi pria menderita ejakulasi dini. Artinya dari 10 orang pria, minimmal 3 orang yang menderita ejakulasi dini. Data yang pernah saya temukan di Timur Tengah sampai 60% populasi pria. Saya belum menemukan data kasus ini di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun dari beberapa orang pasien yang pernah berkonsultasi dengan saya, ada sebagian yang sebenarmya tidak menderita ejakulasi dini. Hanya menurut mereka, kok sekarang lebih cepat dari biasanya. Menurut <em>European Urologists Association</em> dalam <em>guideline</em> tahun 2009, dalam menegakkan diagnosis pasien dengan keluhan ejakulasi dini ada beberapa cara :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Intravaginal Ejaculation Latency Time</em> (IELT) yakni suatu metode dengan menggunakan <em>stopwatch </em>yang digunakan oleh pasien dengan cara menghitung berapa lama sejak mulai penetrasi seksual sampai timbul ejakulasi. Seorang pria dikatakan mengalami ejakulasi dini jika IELT <span style="text-decoration:underline;">&lt; </span> 2 menit.<!--more--></li>
<li><em>Premature Ejaculation Diagnostic Tool</em> (PEDT) yakni suatu metode dengan menggunakan kuesioner berupa pertanyaan yang menyangkut tentang aktifitas seksual, kepuasan dan keluhan psikologis pasien. Penilaian dari pemeriksaan ini adalah : Ejakulasi dini jika skor PEDT <span style="text-decoration:underline;">&gt;</span> 11, kemungkinan ejakulasi dini jika skor PEDT antara 9 – 10, normal jika PEDT<span style="text-decoration:underline;">&lt;</span> 8.</li>
<li><em>Arabic Index of Premature Ejaculation</em> (AIPE) : terdiri atas tujuh pertanyaan kuesioner yag dikembangkan di Saudi Arabia untuk menilai hasrat seksual, kekerasan ereksi untuk hubungan seksual yang memadai, waktu ejakulasi, control, kepuasan pasien dan pasangannya, kecemasan atau depresi.</li>
</ol>
<p>Namun metode yang paling direkomendasikan adalah metode yang kedua yakni dengan PEDT. Berikut petikannya :</p>
<p>Alat Diagnostik Ejakulasi Dini (<em>Premature Ejaculation Diagnostic Tool</em>/PEDT)</p>
<p>Kuesioner ini untuk membantu mengidentifikasi pria yang bermasalah dengan ejakulasi yang terlalu cepat selama aktivitas seksual. Walaupun Anda tidak mengalalami masalah dalam ejakulasi, mohon jawab semua pertanyaan.</p>
<ul>
<li>Berilah tanda cheklist  pada kotak yang mewakili jawaban Anda untuk tiap pertanyaan di bawah ini.</li>
<li>Tandai hanya pada satu kotak untuk tiap pertanyaan.</li>
<li>Ingat bahwa tidak ada jawaban yang benar atau salah dalam semua pertanyaan ini.</li>
<li>Bila pengalaman Anda mungkin berubah dari waktu ke waktu, jawablah dengan pengalaman yang  paling sering terjadi  dalam hubungan seksual.</li>
</ul>
<p>Definisi :</p>
<p>Ejakulasi disini artinya ejakulasi (mengeluarkan semen) setelah penetrasi (ketika penis masuk ke pasangan Anda.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="44" valign="top"></td>
<td width="191" valign="top"></td>
<td width="79" valign="top">Tidak sulit samasekali</td>
<td width="75" valign="top">Agak sedikit sulit</td>
<td width="70" valign="top">Sulit</td>
<td width="90" valign="top">Sangat sulit</td>
<td width="89" valign="top">Sangat sangat sulit</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top">
<ol>
<li></li>
</ol>
</td>
<td width="191" valign="top">Seberapa sulitkah Anda menunda ejakulasi)</td>
<td width="79" valign="top">1</td>
<td width="75" valign="top">2</td>
<td width="70" valign="top">3</td>
<td width="90" valign="top">4</td>
<td width="89" valign="top">5</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top"></td>
<td width="191" valign="top"></td>
<td width="79" valign="top"></td>
<td width="75" valign="top"></td>
<td width="70" valign="top"></td>
<td width="90" valign="top"></td>
<td width="89" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top"></td>
<td width="191" valign="top"></td>
<td width="79" valign="top">Hampir tidak pernah atau tidak pernah0%</td>
<td width="75" valign="top">Kurang dari separuh25%</td>
<td width="70" valign="top">Sekitar separuh50%</td>
<td width="90" valign="top">Lebih dari separuh75%</td>
<td width="89" valign="top">Hampir selalu atau selalu100%</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top">2.</td>
<td width="191" valign="top">Apakah Anda ejakulasi sebelum Anda inginkan?</td>
<td width="79" valign="top">1</td>
<td width="75" valign="top">2</td>
<td width="70" valign="top">3</td>
<td width="90" valign="top">4</td>
<td width="89" valign="top">5</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top">3.</td>
<td width="191" valign="top">Apakah Anda mengalami ejakulasi dengan stimulasi   yang sangat sedikit?</td>
<td width="79" valign="top">1</td>
<td width="75" valign="top">2</td>
<td width="70" valign="top">3</td>
<td width="90" valign="top">4</td>
<td width="89" valign="top">5</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top"></td>
<td width="191" valign="top"></td>
<td width="79" valign="top"></td>
<td width="75" valign="top"></td>
<td width="70" valign="top"></td>
<td width="90" valign="top"></td>
<td width="89" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top"></td>
<td width="191" valign="top"></td>
<td width="79" valign="top">Tidak sama sekali</td>
<td width="75" valign="top">Sedikit frustrasi</td>
<td width="70" valign="top">Frustrasi</td>
<td width="90" valign="top">Sangat Frustrasi</td>
<td width="89" valign="top">Sangat sangat Frustrasi</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top">4.</td>
<td width="191" valign="top">Apakah Anda merasa frustrasi karena mengalami   ejakulasi sebelum Anda inginkan?</td>
<td width="79" valign="top">1</td>
<td width="75" valign="top">2</td>
<td width="70" valign="top">3</td>
<td width="90" valign="top">4</td>
<td width="89" valign="top">5</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top">5.</td>
<td width="191" valign="top">Seberapa khawatir Anda tentang waktu ejakulasi   Anda akan menyebabkan pasangan tidak puas?</td>
<td width="79" valign="top">1</td>
<td width="75" valign="top">2</td>
<td width="70" valign="top">3</td>
<td width="90" valign="top">4</td>
<td width="89" valign="top">5</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urologynotes.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urologynotes.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urologynotes.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urologynotes.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urologynotes.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urologynotes.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urologynotes.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urologynotes.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urologynotes.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urologynotes.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urologynotes.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urologynotes.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urologynotes.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urologynotes.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=128&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/20/diagnosis-ejakulasi-dini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93cf34cd9afa48739b45ee27bc87908a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjier</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/10/prostate_enlarged_z2.jpg?w=129" medium="image">
			<media:title type="html">ejakulasi dini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makanan Anti Kanker Prostat</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/03/makanan-anti-kanker-prostat/</link>
		<comments>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/03/makanan-anti-kanker-prostat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 23:36:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjier</dc:creator>
				<category><![CDATA[Onkologi]]></category>
		<category><![CDATA[anti kanker]]></category>
		<category><![CDATA[kanker prostat]]></category>
		<category><![CDATA[prostate cancer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urologynotes.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Makanan bisa menjadi sumber penyakit maupun obat. Khusus untuk para pria, jika Anda ingin jauh-jauh dari risiko kanker prostat, sebaiknya perbanyak konsumsi 4 jenis makanan berikut ini. Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar dalam sistem reproduksi lelaki. Hal ini terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=120&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_122" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-122" title="PRIA-MAKAN-dalam(thatsfit)" src="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/10/pria-makan-dalamthatsfit1.jpg?w=150&#038;h=150" alt="foto:thatshift" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">foto:thatshift</p></div>
<p>Makanan bisa menjadi sumber penyakit maupun obat. Khusus untuk para pria, jika Anda ingin jauh-jauh dari risiko kanker prostat, sebaiknya perbanyak konsumsi 4 jenis makanan berikut ini.<br />
Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar dalam sistem reproduksi lelaki. Hal ini terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali.<span id="more-120"></span></p>
<p>Sel ini dapat menyebar secara metastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan lymph node. Kanker prostat dapat menimbulkan rasa sakit, kesulitan buang air kecil, disfungsi ereksi dan gejala lainnya.</p>
<p>Jumlah kanker prostat sangat bervariasi di dunia namun jarang terjadi di Asia Timur dan Selatan. Sering terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Menurut American Cancer Society, kanker prostat paling jarang terjadi di pria Asia dan paling sering terjadi di orang berkulit hitam dan orang Eropa tengah.</p>
<p>Mengetahui makanan apa yang baik dan tidak untuk kesehatan adalah kunci melawan penyakit ini. Apalagi hampir sebagian besar penyakit kanker disebabkan karena pola makan yang salah. Dikutip dari <em>Askmen</em>, Jumat (2/10/2009) berikut 4 makanan yang paling baik dalam mencegah kanker prostat.<br />
<strong><br />
1. Tomat</strong><br />
Makanan pencegah kanker adalah makanan yang mengandung antioksidan, dan salah satunya yaitu buah tomat yang banyak mengandung likopen. Likopen adalah pigmen golongan karotenoid yang memberi warna merah pada buah tomat sekaligus memiliki efek antioksidan. Sebuah studi tahun 2007 menyebutkan bahwa tomat bisa meningkatkan aliran pembuluh darah pada alat reproduksi pria dan mengurangi risiko kanker prostat. Jadi, jangan lupa masukkan tomat dalam daftar menu harian Anda.</p>
<p><strong>2. Brokoli</strong><br />
Kandungan senyawa aktif Sulforaphane yang ada pada brokoli bisa mencegah pembentukan sel-sel yang tidak terkontrol (kanker) pada bagian kelenjar prostat laki-laki. Menurut para peneliti, Sulforaphane adalah senyawa yang paling baik yang pernah mereka temukan dalam melawan dan membunuh sel-sel kanker, termasuk kanker prostat. Makanlah dalam keadaan mentah atau tidak terlalu matang agar kandungan zat aktif tersebut tidak banyak yang hilang.<br />
<strong><br />
3. Kedelai</strong><br />
Kedelai sudah lama diketahui sebagai makanan yang memiliki antioksidan tinggi. Kandungan antioksidan pada kedelai adalah genistein, daidzein dan glycitein yang semuanya tergolong dalam sebuah golongan yang disebut isoflavon. Semua makanan yang berasal dari kedelai sangat sehat. Susu kedelai, tahu, tempe dan makanan kedelai lainnya bisa memerangi sel-sel yang kemungkinan berubah menjadi kanker. Mulai sekarang, perbanyak konsumsi kedelai daripada daging.</p>
<p><strong>4. Flax (Rami)</strong><br />
Rami (Boehmeria nivea )adalah tumbuhan yang biasa dimanfaatkan untuk membuat bahan kain, yaitu linen. Tumbuhan ini kaya akan omega 3 dan juga lignan yang merupakan senyawa antioksidan juga. Sayangnya hanya sedikit studi yang meneliti kelebihan tumbuhan ini, padahal kandungan lignan yang terdapat banyak pada tumbuhan ini adalah antioksidan juga. Rami bisa ditemukan pada tepung-tepungan dan biji-bijian seperti sereal.</p>
<p>Meskipun 4 makanan tersebut disebut sebagai makanan anti kanker prostat, namun secara umum juga bisa mencegah jenis kanker lainnya seperti kanker payudara, pankreas, hati dan lainnya. Jangan lupa untuk mengonsumsi makanan-makanan tersebut jika ingin tetap sehat.(<strong>detikhealth.com</strong>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urologynotes.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urologynotes.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urologynotes.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urologynotes.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urologynotes.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urologynotes.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urologynotes.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urologynotes.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urologynotes.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urologynotes.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urologynotes.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urologynotes.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urologynotes.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urologynotes.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=120&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/03/makanan-anti-kanker-prostat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93cf34cd9afa48739b45ee27bc87908a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjier</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/10/pria-makan-dalamthatsfit1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">PRIA-MAKAN-dalam(thatsfit)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>10 Tanda Dini Kanker Prostat</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/03/10-tanda-dini-kanker-prostat/</link>
		<comments>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/03/10-tanda-dini-kanker-prostat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 23:26:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjier</dc:creator>
				<category><![CDATA[Onkologi]]></category>
		<category><![CDATA[ereksi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan ereksi]]></category>
		<category><![CDATA[kanker prostat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urologynotes.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Kanker prostat adalah salah satu dari 10 penyakit tersering yang menimpa pria. Sayang, para pria kerap tidak sadar dengannya sampai penyakit ini menyebar dan makin sulit diterapi. Bisa jadi ini akibat terlalu banyaknya gejala yang ada. Setidaknya, ada cara mengenali gejala kanker prostat. Mari kita lihat tanda-tanda berikut ini : 1. Sulit berkemih Bisa berupa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=115&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-117" title="kanker prostat" src="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/10/prostate_enlarged_z1.jpg?w=129&#038;h=150" alt="kanker prostat" width="129" height="150" />Kanker prostat adalah salah satu dari 10 penyakit tersering yang menimpa pria. Sayang, para pria kerap tidak sadar dengannya sampai penyakit ini menyebar dan makin sulit diterapi. Bisa jadi ini akibat terlalu banyaknya gejala yang ada. Setidaknya, ada cara mengenali gejala kanker prostat. Mari kita lihat tanda-tanda berikut ini :</p>
<p><strong>1. Sulit berkemih<br />
</strong>Bisa berupa perasaan ingin berkemih tapi tidak ada yang keluar, berhenti saat sedang berkemih, ada perasaan masih ingin berkemih atau harus sering ke toilet untuk berkemih karena keluarnya sedikit – sedikit. Gejala ini akibat  membesarnya kelenjar prostat yang ada di sekitar saluran kemih karena ada tumor di dalamnya sehingga mengganggu proses berkemih. Kelenjar prostat akan makin besar seiring bertambahnya usia seseorang. Karena itu, periksa diri ke dokter untuk membedakan apakah hanya pembesaran prostat ataukah kanker.<span id="more-115"></span></p>
<p><strong>2. Nyeri saat berkemih</strong><br />
Problem ini juga akibat adanya tumor prostat yang menekan saluran kemih. Namun, nyeri ini juga bisa merupakan gejala infeksi prostat yang disebut <strong><em>prostatitis. </em></strong>Bisa juga tanda <strong><em>hiperplasia prostat </em></strong>yang bukan merupakan kanker.</p>
<p><strong>3. Keluar darah saat berkemih</strong><br />
Gejala ini jarang terjadi, namun jangan diabaikan. Segeralah periksa ke dokter meski darah yang dikeluarkan hanya sedikit, samar – samar atau hanya berwarna merah muda. Kadangkala infeksi saluran kemih juga bisa menyebabkan gejala ini.</p>
<p><strong>4. Sulit ereksi atau menahan ereksi</strong><br />
Tumor prostat bisa saja menyebabkan aliran darah ke penis yang seharusnya meningkat saat terjadinya ereksi menjadi terhalang sehingga susah ereksi. Bisa juga menyebabkan tidak bisa ejakulasi setelah ereksi. Tapi sekali lagi, pembesaran prostat bisa saja menyebabkan munculnya gejala ini.</p>
<p><strong>5. Darah pada sperma<br />
</strong>Gejala ini, seperti darah pada urin, bisa timbul tidak terlalu jelas. Darah tidak dalam jumlah banyak dan hanya menyebabkan warnanya berubah menjadi merah muda. Meski begitu patut diwaspadai</p>
<p><strong>6. Sulit Buang Air Besar (BAB) dan ada masalah saluran pencernaan lainnya</strong><br />
Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan di depan rektum. Akibatnya, bila ada tumor pencernaan akan terganggu. Namun perlu diingat, sulit BAB yang terus menerus terjadi juga bisa menyebabkan pembesaran prostat karena terjadi tekanan pada kelenjar secara terus menerus. Sulitnya BAB dan gangguan saluran cerna bisa juga mengindikasikan kanker usus besar.</p>
<p><strong>7. Nyeri terus menerus di punggung bawah, panggul atau paha dalam bagian atas</strong><br />
Sering, kanker prostat menyebar di wilayah-wilayah ini, yaitu pada punggung bawah, panggul dan pinggul sehingga nyeri yang sulit dijelaskan di bagian ini bisa menjadi tanda adanya gangguan</p>
<p><strong>8. Sering berkemih di malam hari</strong><br />
Jika Anda sering terbangun di malam hari lebih dari sekali hanya untuk berkemih, periksalah segera ke dokter.</p>
<p><strong>9. Urin yang menetes atau tidak cukup kuat</strong><br />
Gejala ini mirip inkontinensia urin (ngompol). Urin tidak dapat ditahan hingga perlahan keluar dan menetes. Atau kalau pun keluar aliran tidak cukup kuat.</p>
<p><strong>10. Usia di atas 50 dan mempunyai faktor resiko</strong><br />
Karena tidak menimbulkan gejala maka pria yang memiliki faktor risiko sebaiknya memeriksakan diri secara rutin. Faktor risiko ini termasuk adanya anggota keluarga yang menderita kanker terutama jika itu sang ayah,  obesitas/kegemukan dan merokok merupakan salah satu faktor risiko kanker prostat.(Kompas.com/WebMD)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urologynotes.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urologynotes.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urologynotes.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urologynotes.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urologynotes.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urologynotes.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urologynotes.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urologynotes.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urologynotes.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urologynotes.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urologynotes.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urologynotes.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urologynotes.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urologynotes.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=115&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/03/10-tanda-dini-kanker-prostat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93cf34cd9afa48739b45ee27bc87908a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjier</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/10/prostate_enlarged_z1.jpg?w=129" medium="image">
			<media:title type="html">kanker prostat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kanker Prostat Menanti para Pria</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/02/kanker-prostat-menanti-para-pria/</link>
		<comments>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/02/kanker-prostat-menanti-para-pria/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 23:45:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjier</dc:creator>
				<category><![CDATA[Onkologi]]></category>
		<category><![CDATA[kanker prostat]]></category>
		<category><![CDATA[prostate cancer]]></category>
		<category><![CDATA[resiko kanker]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urologynotes.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Mulai umur 50 tahun ke atas para pria mesti waspada. Pasalnya 4 dari 5 pria berumur 50 tahun berisiko mengalami gangguan prostat. Semakin bertambah umur, prevalensinya makin tinggi. Pola hidup dan lingkungan yang buruk meningkatkan risiko gangguan organ reproduksi pria. Bagaimana supaya tetap sehat? Di kalangan pria, kanker prostat merupakan gangguan kesehatan yang patut diwaspadai. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=124&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-125" title="prostat" src="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/10/prostat.jpg?w=150&#038;h=113" alt="prostat" width="150" height="113" />Mulai umur 50 tahun ke atas para pria mesti waspada. Pasalnya 4 dari 5 pria berumur 50 tahun berisiko mengalami gangguan prostat. Semakin bertambah umur, prevalensinya makin tinggi. Pola hidup dan lingkungan yang buruk meningkatkan risiko gangguan organ reproduksi pria. Bagaimana supaya tetap sehat?<br />
Di kalangan pria, kanker prostat merupakan gangguan kesehatan yang patut diwaspadai. Prostat adalah kelenjar kelamin yang hanya terdapat pada pria. Fungsinya memproduksi sperma/mani dan menjaga sperma agar tetap hidup. <span id="more-124"></span></p>
<p>Kelenjar prostat berukuran sebesar biji walnut. Letaknya di bawah kandung kemih mengelilingi pangkal saluran kemih. Dalam menjalankan fungsinya, kelenjar prostat memerlukan hormon testoteron yang dihasilkan oleh buah zakar (testis).</p>
<p>Adapun kanker prostat merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat. Sel-sel kelenjar prostat tersebut berkembang secara abnormal tidak terkendali sehingga merusak jaringan di sekitarnya.</p>
<p>Kanker prostat jarang terjadi pada pria di bawah 40 tahun. Penderitanya paling banyak berusia di atas 50 tahun. Namun, bukan berarti pria usia muda tak perlu mewaspadainya. Asal tahu saja, kanker tersebut penyebarannya sangat lambat dan kebanyakan tak menimbulkan gejala.</p>
<p>Meski penyebabnya belum jelas, ditengarai ada beberapa kemungkinan faktor risiko munculnya kanker prostat. Di antaranya:<br />
<strong>- Genetik</strong><br />
Risiko jadi semakin tinggi jika terbukti ada kerabat yang terdiagnosis kanker prostat. Jika ayah atau saudara laki-laki menderita kanker prostat, berarti risiko yang dihadapi cukup tinggi.</p>
<p><strong>- Pola konsumsi</strong><br />
Dari berbagai riset diungkapkan, pola makan memengaruhi peningkatan kemungkinan seseorang dapat menderita kanker, apa pun jenisnya. Bahkan, para ahli gizi menyatakan, 80-90 persen kasus kanker berkaitan erat dengan makanan yang dikonsumsi. Berbagai penelitian mengatakan, risiko akan meningkat bila seseorang sehari-harinya mengonsumsi diet tinggi lemak.</p>
<p><strong>- Gaya hidup</strong><br />
Merokok dan minum alkohol ditengarai menjadi pemicu munculnya kanker prostat. Selain itu, sering berganti-ganti pasangan juga membuka kesempatan terjadinya infeksi virus penyebab kanker yang ditularkan melalui hubungan kelamin.</p>
<p><strong>- Lingkungan</strong><br />
Pekerja industri yang berkontak lama dengan logam kadmium (bahan pembuat batere), juga bahan-bahan kimia lain berisiko tinggi mengidap kanker prostat.(<strong>Kompas.com</strong>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urologynotes.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urologynotes.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urologynotes.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urologynotes.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urologynotes.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urologynotes.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urologynotes.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urologynotes.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urologynotes.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urologynotes.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urologynotes.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urologynotes.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urologynotes.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urologynotes.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=124&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urologynotes.wordpress.com/2009/10/02/kanker-prostat-menanti-para-pria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93cf34cd9afa48739b45ee27bc87908a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjier</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/10/prostat.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">prostat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mitos Testosteron</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com/2009/07/01/mitos-testosteron/</link>
		<comments>http://urologynotes.wordpress.com/2009/07/01/mitos-testosteron/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 02:40:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjier</dc:creator>
				<category><![CDATA[andrologi]]></category>
		<category><![CDATA[fertilitas]]></category>
		<category><![CDATA[kankerprostat]]></category>
		<category><![CDATA[steroid]]></category>
		<category><![CDATA[terstosteron]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urologynotes.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Testosteron merupakan hormon seks pria yang punya peran penting dalam fungsi seksual, produksi sperma, pembentukan otot, dan intonasi suara. Rendahnya kadar hormon ini akan menyebabkan seseorang mengalami kelelahan kronis, depresi, gangguan ereksi, dan postur tubuh yang kurang tegap atau berkurangnya kemampuan atletik. Penelitian menunjukkan bahwa hormon testosteron dalam jumlah yang normal sangat penting untuk mengurangi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=61&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-65" title="testosterone" src="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/07/testosterone1.jpg?w=100&#038;h=150" alt="testosterone" width="100" height="150" />Testosteron merupakan hormon seks pria yang punya peran penting dalam fungsi seksual, produksi sperma, pembentukan otot, dan intonasi suara. Rendahnya kadar hormon ini akan menyebabkan seseorang mengalami kelelahan kronis, depresi, gangguan ereksi, dan postur tubuh yang kurang tegap atau berkurangnya kemampuan atletik. <span id="more-61"></span></p>
<p>Penelitian menunjukkan bahwa hormon testosteron dalam jumlah yang normal sangat penting untuk mengurangi risiko diabetes dan penyakit kardiovaskular pada pria. Selain itu, pria yang kadar testosteronnya normal lebih panjang umur dibanding dengan pria yang kekurangan hormon ini.</p>
<p>Banyak mitos yang salah beredar mengenai hormon pria ini. Abraham Morgentaler, MD, dokter spesialis urologi dari Harvard Medical School dan penulis buku <em>Testosterone for Life </em>akan menjawabnya untuk Anda.</p>
<p><strong>1. Testosteron adalah obat yang ilegal</strong><br />
Hormon testosteron termasuk dalam obat yang legal, terlebih hormon ini sangat penting bagi pria. Yang ilegal adalah bila hormon ini dipakai tanpa resep dokter. Meski begitu, banyak organisasi olahraga yang punya aturan ketat tentang penggunaan obat atau suplemen yang mengandung testosteron karena bisa memengaruhi performa atlet. Atlet yang melanggar bisa dikenai sanksi.</p>
<p><strong>2. Testosteron adalah steorid, dan steorid berbahaya.</strong><br />
Ya, testosteron memang steorid, tapi tidak berbahaya. Lagi pula secara alamiah kita dipenuhi oleh berbagai steorid. Menurut Morgentaler, kata steroid sebenarnya berkaitan dengan molekul yang ditopang oleh empat karbon, seperti estrogen, progesteron, kortisol, juga kolesterol.</p>
<p>Sementara itu, dalam dunia olahraga, steroid merupakan kependekan dari <em>anabolic steroid hormone </em>yang berarti secara khusus bekerja untuk membangun otot dan tulang, seperti testosteron.</p>
<p><strong>3. Testosteron menyebabkan perilaku kasar dan tak terkontrol</strong><br />
Belum ada fakta yang membuktikan testosteron menyebabkan tindakan agresif, kekerasan, atau perilaku tak terkontrol lainnya. Sebaliknya, pria dengan hormon testosteron yang rendah justru mudah marah, dan kondisi ini akan membaik setelah kadar testosteronnya naik.</p>
<p><strong>4. Testosteron menyebabkan kanker prostat</strong><br />
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pria dengan kadar testosteron yang tinggi justru risikonya lebih kecil untuk terkena kanker prostat.</p>
<p><strong>5. Kadar Testosteron yang tinggi menyebabkan kebotakan</strong><br />
Secara umum, pria yang mengalami kebotakan punya kadar testosteron yang sama dengan pria yang rambutnya masih lebat. Kebotakan, menurut Morgentaler, biasanya sudah diturunkan secara genetis. (Kompas.com,15 Juni 2009)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urologynotes.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urologynotes.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urologynotes.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urologynotes.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urologynotes.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urologynotes.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urologynotes.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urologynotes.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urologynotes.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urologynotes.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urologynotes.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urologynotes.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urologynotes.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urologynotes.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=61&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urologynotes.wordpress.com/2009/07/01/mitos-testosteron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93cf34cd9afa48739b45ee27bc87908a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjier</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/07/testosterone1.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">testosterone</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tingkatkan Kualitas Sperma dengan Bercinta tiap Hari</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com/2009/07/01/tingkatkan-kualitas-sperma-dengan-bercinta-tiap-hari/</link>
		<comments>http://urologynotes.wordpress.com/2009/07/01/tingkatkan-kualitas-sperma-dengan-bercinta-tiap-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 02:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjier</dc:creator>
				<category><![CDATA[andrologi]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan sperma]]></category>
		<category><![CDATA[kualitas sperma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urologynotes.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Perdebatan mengenai perlu tidaknya seorang pria puasa bercinta selama beberapa hari sebelum melakukan pembuahan pada masa subur akhirnya terjawab. Menurut studi terbaru yang dilakukan oleh dr David Greening dari pusat In Vitro Fertilisation Australia, menyarankan agar hubungan seks dilalukan setiap hari untuk meningkatkan kesuburan. Greening meneliti 118 pria yang rata-rata mengalami kerusakan DNA sperma. Ternyata setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=57&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-67" title="sperm" src="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/07/sperm.jpg?w=150&#038;h=112" alt="sperm" width="150" height="112" />Perdebatan mengenai perlu tidaknya seorang pria puasa bercinta selama beberapa hari sebelum melakukan pembuahan pada masa subur akhirnya terjawab. Menurut studi terbaru yang dilakukan oleh dr David Greening dari pusat In Vitro Fertilisation Australia, menyarankan agar hubungan seks dilalukan setiap hari untuk meningkatkan kesuburan.<span id="more-57"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Greening meneliti 118 pria yang rata-rata mengalami kerusakan DNA sperma. Ternyata setelah para pria tersebut berhubungan seks dan ejakulasi setiap hari berturut-turut dalam seminggu, kualitas sperma mereka meningkat.</p>
<p>Secara umum, indeks kerusakan DNA sperma terjadi pada 26-34 persen pria, demikian menurut Greening yang dilaporkan dalam pertemuan European Society of Human Reproduction and Embryology di Amsterdam, Belanda.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Greening, frekuensi ejakulasi yang teratur setiap hari berpengaruh pada kualitas sperma. Hal ini terjadi karena risiko sperma terkena molekul perusak yang ada dalam saluran testis menjadi berkurang.</p>
<p>Hubungan seks setiap hari memang bisa mengurangi volume semen, tetapi pada kebanyakan pria hal ini bukanlah masalah. &#8220;Bisa disimpulkan bahwa pasangan yang kadar semennya relatif normal sebaiknya berhubungan seks setiap hari seminggu sebelum masa subur agar pembuahan sukses,&#8221; kata Greening (Kompas.com, 1 Juli 2009)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urologynotes.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urologynotes.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urologynotes.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urologynotes.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urologynotes.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urologynotes.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urologynotes.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urologynotes.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urologynotes.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urologynotes.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urologynotes.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urologynotes.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urologynotes.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urologynotes.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=57&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urologynotes.wordpress.com/2009/07/01/tingkatkan-kualitas-sperma-dengan-bercinta-tiap-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93cf34cd9afa48739b45ee27bc87908a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjier</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/07/sperm.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">sperm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jumlah Ideal Ahli Urologi</title>
		<link>http://urologynotes.wordpress.com/2009/06/30/jumlah-ideal-ahli-urologi/</link>
		<comments>http://urologynotes.wordpress.com/2009/06/30/jumlah-ideal-ahli-urologi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 14:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emjier</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Urologi]]></category>
		<category><![CDATA[dokter spesialis]]></category>
		<category><![CDATA[unair]]></category>
		<category><![CDATA[urologi]]></category>
		<category><![CDATA[urology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://urologynotes.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[British Association of Urolgical Surgeon merekomendasikan bahwa bahwa harus ada satu orang ahli urologi setiap 100.000 orang. Jumlah ahli urologi di Indonesia yang hingga kini baru mencapai hampir 200 orang. Jumlah ini sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 227 juta. Berarti seharusnya harus ada 2.270 orang ahli urologi di Indonesia. Masih sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=53&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-69" title="ahli urologi" src="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/06/ahli-urologi.jpg?w=150&#038;h=134" alt="ahli urologi" width="150" height="134" />British Association of Urolgical Surgeon merekomendasikan bahwa bahwa harus ada satu orang ahli urologi setiap 100.000 orang. Jumlah ahli urologi di Indonesia yang hingga kini baru mencapai hampir 200 orang. Jumlah ini sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 227 juta. Berarti seharusnya harus ada 2.270 orang ahli urologi di Indonesia. Masih sangat jauh dari jumlah yang direkomendasikan. Di United Kingdom (UK), rasio ahli urologi dengan penduduk adalah 1:130.000, Belgia 1 : 40.000, Luxembourg 1 : 27.000, Belanda : 1: 56.000, Amerika Serikat 1 : 29.000 sedangkan di Indonesia perbandingannya mencapai 1:1,3 juta. Selain itu, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan penyebaran penduduk yang tidak merata. Dengan rasio tersebut jelas sekali beban ahli urologi Indonesia jauh lebih besar dibandingkan sejawatnya di UK yang ternyata telah berhasil menerapkan konsep shared care pada penyakit urologi dengan sukses. Dari segi demografi serta geografi, sudah selayaknya dicarikan jalan keluar bagaimana di Indonesia dapat terselenggara pemerataan pelayanan kesehatan yang mutunya tetap terjaga. <span id="more-53"></span></p>
<p>Dengan adanya hambatan tersebut, menurut Prof. H. Widjoseno Gardjito, dr.,SpB, SpU (K) dalam Orasi Perpisahannya tahun 2008 sebagai Guru Besar di Aula Fakultas Kedokteran Unair, maka yang paling tepat adalah menggunakan konsep shared care. Konsep ini sudah terbukti berhasil digunakan di UK, dan sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Strategi shared care berhasil meningkatkan perhatian dokter umum pada masalah beberapa penyakit urologi ,utamanya kelainan prostat. Konsep ini terbukti berhasil meningkatkan kualitas hidup para pasien penyakit prostat. Dengan kemajuan di bidang bioteknologi obat-obatan, untuk kasus-kasus urologi seperti LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms), OAB (Overactive Bladder), disfungsi Ereksi, penyakit batu saluran kemih, dan sebagainya memungkinkan dikembangkannya konsep ini.<br />
“Dengan konsep berbagi ini, diharapkan ahli urologi dapat mendidik ahli urologi muda atau menajamkan keilmuannya sehingga dapat meningkatkan kemampuannya sebagai ahli urologi dan lebih lanjut lebih memanusiawikan pasien,” katanya.</p>
<p>Meski demikian, lanjut Widjoseno, konsep ini perlu didefinisikan secara jelas dan disebarluaskan dengan hati-hati dan dilaksanakan secara etis. Konsep ini perlu penjabaran serta pelaksanaannya masih harus dibahas secara mendalam dan disempurnakan melalui evaluasi dan umpan balik secara berkelanjutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih ada yang berminat jadi ahli urologi? Masih banyak “lahan” yang perlu digarap….</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber : Warta online Unair dan ABC of Urology</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/urologynotes.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/urologynotes.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/urologynotes.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/urologynotes.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/urologynotes.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/urologynotes.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/urologynotes.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/urologynotes.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/urologynotes.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/urologynotes.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/urologynotes.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/urologynotes.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/urologynotes.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/urologynotes.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=urologynotes.wordpress.com&amp;blog=8071855&amp;post=53&amp;subd=urologynotes&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urologynotes.wordpress.com/2009/06/30/jumlah-ideal-ahli-urologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93cf34cd9afa48739b45ee27bc87908a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emjier</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://urologynotes.files.wordpress.com/2009/06/ahli-urologi.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">ahli urologi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
